Tugas Kunjungan Anti Mainstream

Oleh : Tyas Apriyanto


Selama ini, apa sih yang terbayang di benak kita kalau kita denger tugas kunjungan? Mungkin banyak di antara kita yang langsung mikir antara kunjungan ke orang sakit, lansia, atau penjara. Tapi sebenernya tugas kunjungan nggak cuma terbatas itu doank, loh. Kunjungan ke museum rohani adalah salah satu bentuk tugas kunjungan yang bisa dibilang anti mainstream. Nih, simak lebih lanjut yah…

Terdorong oleh rasa haus untuk bisa mengenal iman Katolik dengan lebih baik, Dewan Komisium Bekasi dan Dewan Komisium Jakarta Timur melakukan tugas kunjungan ke museum rohani. Dewan Komisium Bekasi memilih kunjungan ke museum Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia, sementara Dewan Komisium Jakarta Timur memilih ke museum Yerushalayim dan museum sejarah gereja Katolik. Hayo, gugling sana kalau nggak tahu tempatnya di mana…

MUSEUM ALKITAB

Museum ini memiliki beberapa ruangan, antara lain ruang perpustakaan tempat Alkitab dalam berbagai bahasa asing maupun bahasa daerah disimpan,

ruangan yang jenis peralatan musik maupun jenis biji-bijian pepohonan yang banyak disebutkan di dalam Alkitab, serta maket miniatur Bait Allah. Selain itu ada toko buku yang menjual Alkitab berbagai ukuran huruf, serta banyak buku-buku rohani, dan bahan-bahan pelajaran sekolah minggu.

Pada Alkitab umat Katolik terdapat kitab-kitab tambahan yang disebut Deuterokanonika. Dari hasil tanya jawab pada saat kunjungan dengan saudara presentator yang beragama Protestan, ternyata banyak ‘saudara muda’ kita yang sekarang membaca dan mempelajari kitab-kitab Deuterokanonika. Begh, bangga nggak sih?

MUSEUM YERUSHALAYIM

Museum ini berisi bentuk fisik benda-benda rohani yang disebutkan di dalam Alkitab, seperti buah ara kering, pohon ara, biji sesawi, sesawi, kacang merah Yakub, sangkakala, nafiri, tabernakel, Bait Suci,

mahkota duri, paku penyaliban, kirbat air mata, bahtera Nuh, jumbai jubah, tali sembahyang, alat penampi, tanaman Israel, model Bait Allah, pakaian Firaun beserta Ratu, dan sebagainya.

MUSEUM SEJARAH GEREJA KATOLIK

Pembuatan museum yang lebih dikenal sebagai museum Katedral ini diprakarsai oleh pastor kepala Katedral pada waktu itu, yaitu Pater Rudolf Kurris. Hal ini berawal dari rasa cinta Kurris terhadap sejarah dan benda-benda bersejarah. Menurutnya, benda-benda bersejarah itu dapat membangkitkan rasa kagum manusia terhadap masa lampau dan keinginannya menyalurkan pengetahuan dari generasi ke generasi. Pada tanggal 28 April 1991, Mgr. Julius Darmaatmadja telah meresmikan museum ini.

Di museum ini, kita akan menemui koleksi benda sejarah khas Katolik yang menjelaskan perkembangan gereja Katolik di Nusantara, misalnya kursi romo jaman dulu besar dan berukir, patung Maria berkonde dari kayu, jubah-jubah romo dan perubahannya, sulaman-sulamannya, dan lukisan dari batang pohon karya Kusni Kasdut.

Ada kalimat bijak yang mengatakan begini,“untuk mencari tahu di mana kita berada sekarang dan akan kemana kita nanti, kita harus mengetahui di mana kita pernah berada sebelumnya”. Dan karena itu lah, kunjungan ke museum bisa menjadi sebuah tugas yang menarik untuk lebih mengenal siapa kita sebagai seorang Katolik. So, siapa bilang kunjungan ke museum itu nggak greget? Tapiii… setelah pandemi selesai yah.

8 September, Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Oleh : Anson Santoso


Bagi umat Katolik tentunya tidak asing lagi dengan tokoh Ibu kita Bunda Maria. Kita para legioner yang berdevosi kepada Bunda Maria, tentunya diharapkan lebih dekat dengan Ibu Tuhan kita Yesus Kristus, yakni Bunda Perawan Suci Maria. Begitu mendalam pemahaman tentang Bunda kita ini, di mana terdapat bagian teologi di ajaran Gereja kita yang disebut “Mariologi”, yang mempunyai beberapa institusi pendidikan dan penelitian di beberapa negara.

Bunda Maria dilahirkan dalam keluarga saleh oleh orang tuanya Santo Yoakim dan Santa Anna. Ia dididik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, baik secara teoritis (kitab-kitab Taurat Yahudi), maupun dalam perbuatan sehari-hari.

Saya teringat katekese tentang Bunda Maria yang disampaikan oleh Pastor Andre SDB, Pastor Paroki Danau Sunter. Beliau mengajukan pertanyaan, “Apakah kita bisa menjadi seperti Bunda Maria?”. Umat yang hadir membisu seribu bahasa ketika mendengar pertanyaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan. Muncul pertanyaan berikutnya, “Apakah kita layak menjadi seperti Bunda Maria yang teramat suci itu?”.

Mengagetkan karena jawabannya adalah kita bisa. Beliau memaparkan bahwa, “Kita bisa, asalkan iman kita benar-benar terdidik dengan sangat baik seperti Santo Yoakim dan Santa Anna mendidik Bunda Maria. Juga asalkan kita menolak segala –ya, segala- bentuk dosa dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak lupa kita pun harus mau melaksanakan kehendak-Nya saja”.

Bunda Maria yang acapkali menjadi perantara doa-doa kita kepada Tuhan melalui doa Novena Tiga Salam Maria, atau kita yang merasa dikuatkan melalui doa Rosario, mempunyai beberapa sejarah menarik. Misalnya, kemenangan pasukan Eropa/ Kristiani atas invasi pasukan Turki pada tahun 1571, atau kisah orang kudus Santo Dominic Savio yang menceritakan kepada gurunya -Santo Don Bosco- bahwa yang menolongnya pada saat ajalnya ialah Bunda Gereja kita.

Bunda Maria yang secara dogma Gereja berperan secara mediatrix (sebagai mediator antara Tuhan Yesus dan manusia) serta co-redemptrix (pendamping) dikenal sebagai Bunda para pendosa. Ada satu pengalaman unik saat saya menempuh pendidikan di Sanggau, Kalimantan Barat. Seringkali saya diminta untuk mengembalikan rantang makanan, yang perjalanannya harus melewati hutan pada saat malam hari. Di lokasi tujuan terdapat 2-3 anjing penjaga yang cukup galak. Setiap kali anjing itu berlari atau menggonggong ke arah saya, saya berdoa Salam Maria. Alhasil mereka langsung menjadi tenang, tidak lagi menggonggong, dan berbalik badan. Pengalaman ini mengingatkan saya pada sebuah lukisan Bunda Maria yang pernah saya lihat. Dalam lukisan yang berukuran besar itu, Bunda Maria dengan jubahnya melindungi orang-orang yang sedang dalam ketakutan. Manusia dari berbagai macam profesi dan kedudukan sosial di dunia berlindung dibalik jubah Bunda Maria.

Acapkali dengan perantaraan Bunda Maria, Tuhan mengabulkan doa-doa saya, khususnya di saat saya berdoa Novena Tiga Salam Maria. Begitu pula saat saya berdoa Rosario, Salam Maria, atau Catena Legionis, saya merasa hati menjadi tentram dan mampu menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya dan kita semua bersyukur atas kelahiran Bunda Maria lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kita mendapatkan Bunda Surgawi, yang mana olehnya, Tuhan kita Yesus Kristus mustahil menolak permohonan sang Bunda yang telah mengikuti kehendak Tuhan selama hidupnya di dunia ini.

Terima kasih, Bunda Maria. Selamat ulang tahun Bunda Surgawi, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda kita semua.

sumber : katolisitas-indonesia.blogspot.com

100 Tahun Legio Maria : Sejarah dan Inspirasi Awal

Di awal tahun 1900an ketika Dublin, Irlandia merupakan satu wilayah di Eropa yang mengalami keterpurukan kondisi perekonomian karena banyak pengangguran dan kemiskinan, Serikat Santo Vincentius (SSV), menjadi sebuah organisasi/ kelompok tumbuh hadir untuk membantu pemenuhan kebutuhan jasmani.

Seorang awam, Frank Duff (24 tahun), didasari oleh keprihatinan pada sesama yang menderita dan semangat misioner yang bergelora dalam hatinya, serta keinginannya yang sederhana untuk dapat melakukan sesuatu yang berguna, untuk berjumpa dengan Kristus sendiri dalam diri sesama yang menderita, maka pada 1913 Frank Duff mendaftarkan diri menjadi anggota kelompok SSV.

Duff, sebagai seorang anggota SSV, tentulah ia memiliki devosi yang mesra kepada Maria, dalam perjalanannya Duff juga membaca dan terinspirasi dari buku “Bakti Sejati kepada Maria”, karangan St Louis Marie de Montfort. SSV terus bertumbuh dan mekar, Frank Duff menjadi ketua dan berpusat di Myra House, Dublin. Dalam setiap pertemuan bulanan selalu mengagendakan diskusi dari buku Bakti Sejati. Dalam sebuah pertemuan, anggota menceritakan kunjungan menarik saat ke rumah sakit di Dublin.

Berawal dari kunjungan tersebut, Frank Duff dan bersama beberapa orang merasakan perlunya lanjutan untuk membahas hal tersebut dan disepakati pertemuan pada 7 September 1921, yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Legio Maria.

7 September 1921 jam 20:00 Lahirnya Legio Maria

Frank Duff, Pastor Michael Toher dan 13 orang wanita yang mayoritas gadis muda berkumpul. Tak seorang pun yang sadar bahwa hari yang mereka tentukan adalah malam menjelang Pesta Kelahiran Bunda Maria, 8 September. Frank Duff sangat terpesona dengan penataan ruang pertemuan, di atas meja ada patung Bunda Maria Tak bernoda dengan bunga dan lilin di sekitarnya, hal ini sama persis dengan penataan altar pertemuan legio saat ini (tentu saja belum ada Veksilum).

Diyakini bahwa Bunda Maria sendirilah yang hadir mendahului mereka untuk menyambut mereka yang mendaftarkan diri untuk melayani dia.

Mereka bukan saja datang untuk membentuk sebuah perkumpulan (organisasi) melainkan untuk menyediakan diri bagi suatu tugas pelayanan, untuk mencintai dan melayani seseorang. Patung itu mengingatkan mereka bahwa Maria selalu hadir di tengah mereka. Pada awalnya, perkumpulan itu dinamakan Perserikatan Maria Berbelaskasih dan kemudian menjadi LEGIO MARIAE.

Anggotanya berusaha melaksanakan dalam hidupnya seperti ajaran “Bakti Sejati kepada Bunda Maria” menurut St. Montfort yang menekankan pada pelayanan praktis, yaitu melayani Bunda Maria, bukan hanya dalam perkataan melainkan juga dalam perbuatan.

Mereka akan melayani dia dengan melayani Puteranya Yesus Kristus yang hadir dalam setiap manusia yang mereka jumpai; melayani Kristus yang menderita dalam diri para pasien di rumah sakit, menghibur Yesus yang kesepian dalam diri orang yang hidup sendirian, bertemu dengan kanak-kanak Yesus dalam diri anak-anak yang mereka jumpai, mencari Kristus yang tersalib dalam diri setiap pendosa.

Dengan memandang patung Maria di atas altar legio, mereka selalu diingatkan bahwa Bunda Kristus sendirilah yang mengutus mereka untuk suatu tugas isitimewa. Mereka selalu bergantung kepadanya dan berjuang untuk menjalani hidup yang suci dalam persatuan dengan dia. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa panggilan mereka adalah: “Melayani Bunda Maria, demi kemuliaan Allah”. Inilah inspirasi awal yang terus kita hidupi dalam perjalanan pelayanan Legio Maria.

Perluasan Legio Maria
Dalam perkembangannya, Legio Maria mulai tersebar di beberapa belahan dunia, 1929 di Skontlandia, Inggris, India, Amerika, Australia, Selandia Baru, Afrika dan Amerika Latin, China, lalu kemudian di negaranegara Eropa daratan. Legio Maria masuk Indonesia pada 1951 melalui Medan, oleh seorang envoy bernama Miss Theresia Shu (Legioner di Universitas Hongkong), lalu menyebar ke Padang, Pekanbaru, Sidikalang, Tanjung Karang dan Pangkal Pinang. Legio juga menyebar ke Pulau Kalimantan yakni Pontianak, Singkawang, Sambas dan terus ke arah timur, Pulau Flores Nusa Tenggara Timur yakni Maumere.

Pada tahun 1952, Pater Paul Janssen CM, yang baru kembali dari Filipina, tempat Legio Maria berkembang dengan pesat, mendirikan presidium pertama di Kediri, Jawa Timur, lalu meluas ke Surabaya, Malang, Blitar dan Madiun pada tahun 1953. Dengan perkembangannya, mulai dibentuklah dewan legio yaitu Kuria Malang pada 1954.

Di Jawa Barat, Legio Maria mulai masuk pada tahun 1956 menyebar dari Cirebon, Yogyakarta pada tahun 1969 dan meluas ke Semarang dan Surakarta. Sedangkan di Jakarta, mulai dengan presidium sekitar tahun 1977-1978 dan tersebar luas di Indonesia.

Saat ini Legio Maria di Indonesia telah berkembang di 33 provinsi, 35 Keuskupan, dengan jumlah legioner sebanyak 66.000 orang di dalam naungan tiga Dewan Senatus di Indonesia, yaitu Senatus Bunda Maria Karmel, Malang (5 Juli 1964), Senatus Bejana Rohani, Jakarta (29 Maret 1987) dan Senatus Maria Diangkat ke Surga, Kupang (8 September 2019). Bersambung….

Homili Misa Tahunan Senatus 2020 : Allah Turut Berkarya Bersama Kita

Oleh : Mgr. Paskalis Bruno, OFM


Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Dan kita semua diajak untuk mempersiapkan 100 tahun legio dengan kesatuan ini : bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Di tengah kehidupan kita, ada banyak orang yang berusaha mendatangkan kebaikan bagi sesama. Apakah kita para legioner tetap setia melakukan karya-karya yang mendatangkan kebaikan bagi sesama?

Kita tidak pernah berjuang sendirian karena Allah turut berkarya dalam perjuangan kita. Dan Bunda Maria menjadi model teladan hidup bagi kita karena Bunda Maria mengalami sendiri penyertaan Allah dalam hidupnya.

Setidaknya, ada tiga titik dalam hidup Bunda Maria di mana Allah menyertainya:

    1. Bunda Maria adalah orang istimewa yang dipercaya Allah dalam tugas penyelamatan. Maka legioner harus lah menjadi militan dalam imannya untuk melakukan kebaikan bagi sesama.
    2. Bunda Maria membesarkan Yesus dari Nazaret, dan Allah berkarya dalam membimbing Bunda Maria untuk membesarkan Yesus.
    3. Yesus sendiri dari salib mempercayakan murid-murid-Nya kepada Bunda Maria, dan dengan demikian Bunda Maria menjadi Bunda bagi kita semua.

Perayaan 99 tahun legio diharapkan dapat meneguhkan iman dalam memperkuat keyakinan kita, bahwa Allah hadir dalam karya penyelamatan yang mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Misa Tahunan Senatus 2020 : Mari Bersatu Hati

Sabtu (5/9) lalu, Dewan Senatus Bejana Rohani mengadakan Misa Tahunan Senatus (MTS) sebagai perayaan syukur atas ulang tahun Legio Maria yang ke 99, sekaligus membuka rangkaian kegiatan 100 tahun Legio Maria. Bekerja sama dengan seksi komunikasi sosial (komsos) paroki setempat, MTS ini disiarkan secara live streaming melalui channel youtube gereja Santa Perawan Maria (BMV) Katedral Bogor, dan tercatat diikuti oleh 1300an legioner. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya di mana MTS selalu dipenuhi dengan kehadiran lebih dari 3000 legioner, tahun ini dibatasi secara ketat dan hanya tiga perwira dewan senatus yang mendapat ijin untuk menghadiri secara langsung. Mgr. Paskalis Bruno, OFM selaku Bapa Uskup Bogor berkenan menjadi konselebran utama perayaan Ekaristi ini, bersama dengan RD Redemptus Pramudhianto (Pemimpin Rohani Dewan Komisium Bintang Timur Bogor) dan RD Antonius Didit Soepartono (Pemimpin Rohani Dewan Senatus Bejana Rohani Jakarta).

Dalam homilinya, Bapa Uskup mengharapkan semoga perayaan 99 tahun Legio Maria ini dapat meneguhkan iman dalam memperkuat keyakinan kita, bahwa Allah hadir dalam karya penyelamatan yang mendatangkan kebaikan bagi sesama. Dan sebelum berkat penutup, Pastor Didit berkesempatan untuk menyampaikan lima hal penting berkaitan dengan rangkaian kegiatan menuju 100 tahun Legio Maria. Salah satunya adalah gerakan sederhana dari tagline “aku siap diutus”. Selengkapnya bisa disimak di link https://youtu.be/NazWOugekZA.

Mari kita bersatu hati untuk mengusahakan yang terbaik bagi kebaikan bersama, dan meyakini bahwa Allah selalu menyertai setiap niat dan usaha baik kita. Selamat ulang tahun Legio Maria yang ke 99, sekaligus selamat mempersiapkan diri untuk menyambut 100 tahun Legio Maria. Dewan Senatus Bejana Rohani

Waktu yang Tepat

Buku Pegangan Bab 18 halaman 117
Alukosio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-F/Tahun ke-33


Penggunaan waktu yang tepat dan intensif cenderung menghasilkan pencapaian yang besar. Istilah kerennya adalah ‘terfokus’. Fokus memungkinkan sinar matahari yang terkumpul melalui suryakanta memiliki kemampuan membakar. Fokus juga membuat seorang pelajar bisa mencapai prestasi tinggi di sekolahnya. Selain itu, tahukah Anda mengapa ada doa Novena 9 selama hari berturut-turut? Novena ini adalah sarana agar tenaga spiritual kita terfokus, sehingga Tuhan lebih mungkin untuk menjawab doa kita. Fokus membuat tugas-tugas yang dikerjakan menjadi efektif dan menyenangkan.

Para legioner terkasih, bacaan rohani hari ini terkait dengan ‘waktu yang tepat’ dalam menyelenggarakan rapat presidium. Waktu yang tepat berarti rapat dilaksanakan pada jam yang pasti, dimulai dan diakhiri pada jam yang tepat, dan waktu ini seyogyanya tidak penah berubah. Demikian pula dengan hari kapan rapat dilaksanakan. Penghargaan terhadap rapat presidium menuntut kita berfokus dalam waktu yang telah ditetapkan dan disediakan. Peraturan buku pegangan tentang waktu yang ketat bukan dimaksudkan sekedar untuk menampilkan kesan disiplin ala tentara Romawi saja, melainkan bagaimana kita berusaha memfokuskan hati dan pikiran kita pada jalannya rapat. Dengan demikian rapat presidium akan menjadi rapat yang berkualitas, baik efektif secara adminsitrasi, harmoni secara interaksi sosial antar anggotanya, berkembang dari sisi mutu kepribadian, dan berkembang secara spiritual. Rapat presidium adalah perjumpaan para legioner dengan Maria. Tentu akan menjadi duka cita Maria bila perjumpaan para legioner dengan Ibunya yang suci dilaksanakan tidak dengan semangat fokus atau ala kadarnya.

Jadwal rapat yang tidak teratur dan sesuka hati ibarat sebuah suryakanta yang selalu bergerak kesana kemari. Sekalipun suryakanta yang terus bergerak itu diekspos ke cahaya matahari di siang yang terik, toh tindakan ini tak akan mampu mengumpulkan tenaga matahari sampai memiliki daya bakar yang tinggi. Rapat presidium yang sering berubah waktunya tentu juga tak akan memberikan daya bakar/ pertumbuhan tenaga spiritual pada para anggotanya, sebab hal ini mencerminkan bahwa para legioner ini lebih tertarik dengan urusan lainnya.

Jadi hendaklah para legioner senantiasa berusaha menghormati keluhuran rapat presidium dengan menentukan jadwal yang tegas, jelas, dan masuk akal berdasarkan situasi dan kondisi, kemudian barulah para legioner menyesuaikan jadwal tugas-tugas kehidupan yang lain.

Rasul Paulus menuliskan pesan indah kepada jemaat di Kolose: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 2: 23). Rasul Paulus menasehati agar kita melakukan yang terbaik terhadap SEGALA TUGAS KITA – apapun itu, terlebih lagi bila tugas itu adalah duduk bersama berbincang dalam kasih dari hati ke hati kepada Maria – Ibu Sang Juru Selamat. Jadi, marilah kita hormati rapat presidium dengan cinta yang berkobar kepada Maria. Waktu yang tepat menjadi bagian pokok dari upaya ini. Tuhan memberkati. Ave Maria.

100 Tahun Legio Maria : Tema, Tagline, Logo, dan Doa Syukur

Oleh : panitia rangkaian kegiatan 100 tahun Legio Maria


Sumber : panitia rangkaian kegiatan 100 tahun Legio Maria

TEMA :  Fiat Voluntas Tua. Aku Ini Hamba Tuhan, Terjadilah Padaku Menurut Perkataan-Mu (Luk 1:38).

Sikap hati Bunda Maria ketika menerima perutusan dari Allah dengan menyatakan kerendahan hati mentaati kehendak atau perintah Allah. Teladan dan semangat inilah yang hendaknya selalu dihidupi oleh Legio Maria dalam setiap langkahnya secara pribadi dan dalam karya kerasulannya.

TAGLINE : Aku Siap Diutus.

Memantapkan langkah Legio Maria meneruskan perjalanan 100 tahun dengan tetap teguh melaksanakan kesiapsediaan menjalakan tugas perutusan sebagai tentara Maria dengan bersatu dalam bersama dengan tugas perutusan Gereja.

ARTI LOGO : 100 tahun karya Legio Maria dalam terang Roh Kudus.

Legio Maria berkarya hingga 100 tahun dalam terang Roh Kudus.

      • Veksilum : panji Legio Maria
      • Burung merpati dan nyala api : lambang dari Roh Kudus
      • Angka 100 : 100 tahun perjalanan Legio Maria
      • Bunda Maria pengantara segala rahmat : menjadi perantara, semangat dan teladan dalam karya Legio sehingga mampu mewartakan karya Roh Kudus
      • Tangan yang berpegangan dengan rantai rosario : kesatuan dalam doa dan karya. Legio Maria merangkul semua orang, berkarya untuk saling meneguhkan dengan doa rosario sebagai salah satu kekuatan doa
      • Dasar warna merah dan putih : lambang bendera Indonesia
      • Bola dunia dengan peta Indonesia :  Legio Maria turut berperan menghadirkan karya keselamatan Allah di Indonesia.

Sumber : panitia rangkaian kegiatan 100 tahun Legio Maria

Doa ini agar disebar luaskan pada Pemimpin Rohani dan seluruh anggota Legio Maria (aktif dan auxilier) serta pada umat non legioner. Doa ini didoakan secara pribadi dan dalam pertemuan Legio.

Ada Presidium Khusus Tuli, nggak?

Sumber berita: Daisy Haryanto


Pernah kah Anda mendengar istilah “BIsIndo”? BIsIndo adalah bahasa isyarat Indonesia, yang belakangan ini menjadi booming kembali dalam penyampaian informasi seputar covid19. Dan ternyata, gereja Katolik juga mulai mempelajarinya, loh.

Francis Daisy Haryanto, seorang legioner dari paroki Cilandak, adalah salah satu peserta kelas BIsIndo sejak November 2019 lalu. Daisy menuturkan bahwa BIsIndo itu terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas umum dan kelas liturgi. Kelas umum ini cabangnya sudah ada di mana-mana. Tapi untuk kelas liturgi, setahu Daisy baru ada dua. Salah satunya di gereja Katedral Jakarta. Peminatnya lumayan ramai, sekitar 40 orang, sehingga harus dibagi dalam dua kelompok. “Tapi yang gugur juga banyak,” sahut Daisy sambil menyematkan emotikon sedih dalam chatnya. Selain karena kesibukan masing-masing, gugurnya peserta juga disebabkan karena materi yang semakin sulit. Dalam kelas lanjutan, peserta diwajibkan untuk mampu menerjemahkan homili pastor ke bahasa isyarat saat itu juga, tanpa bocoran catatan dari pastor yang bertugas.

Berawal dari ngobrol santai dengan seorang pengajar kelas liturgi mengenai keseruan bahasa isyarat, akhirnya Daisy menghadirkan diri secara rutin dalam setiap pertemuan yang ada. Dari sini lah, perlahan Daisy mulai mengerti bagaimana kesulitan komunikasi yang dialami oleh ‘teman tuli’, sebutan resmi bagi mereka yang tidak bisa mendengar. Salah satunya adalah tidak bisa disambi. “Selama ini kita kadang bicara sambil melakukan hal lain, seperti pegang hape atau ngapain. Tapi sama mereka, itu nggak bisa kita lakukan. Kita harus saling memandang karena mereka membaca ekspresi wajah kita,” jelasnya. Dari cerita yang Daisy tangkap, teman tuli lebih suka menggunakan BIsIndo dibandingkan SIBI. SIBI juga merupakan bahasa isyarat, namun bagi teman tuli terasa kurang ekspresif dan lebih datar.

“Eh, mau nanya dong. Legio ada presidium khusus teman tuli nggak ya?” sebuah pertanyaan spontan, namun mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan untuk ke depannya. Bagaimana pun juga, teman tuli juga membutuhkan bantuan dalam pertumbuhan dan perkembangan iman mereka, seperti teman dengar pada umumnya. Maka tidak lah berlebihan jika hal ini menjadi kewajiban kita bersama untuk dapat menjembatani mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Sejak Ikut Legio Maria…

Sumber berita: Gabriella Lintang


Namanya Gabriella Lintang Rimananda, ia biasa dipanggil Lintang. Dia seorang siswi kelas XI dan tentunya juga seorang legioner. Aktif di Legio Maria sudah ia lakukan sejak tahun 2016 lho, tepatnya saat ia masih kelas VII. “Awalnya aku diajakin teman aja, niatnya mau menambah pengalaman dan relasi”, ungkap Lintang menjelaskan bagaimana awalnya ia mengikuti Legio Maria.

Ternyata setelah menjadi legioner, Lintang didorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia diajarkan komitmen melalui hadir rapat mingguan dan berdoa Catena setiap hari, tanggung jawab untuk sedapat mungkin menjalankan tugas, berbicara di depan teman-teman melalui laporan tugas atau tugas kunjungan, berdoa rosario, baca Kitab Suci, berlatih merefleksikan diri saat menyampaikan kesan tugas, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting, ia juga bertemu teman-teman yang positif, yang saling mendukung dan memotivasi satu sama lain.

“Dulunya aku pemalas, mudah marah, sering nyontek. Sejak ikut Legio Maria, aku jadi lebih sabar, mau berusaha, lebih rajin, gak nyontek lagi, gak asal bertindak. Tiap kali mau nakal, seperti ada yang ingatin untuk tidak demikian, lalu teringat sifat dan sikap Bunda Maria.”

Lintang juga berbagi beberapa pengalaman pribadinya yang membuat dia merasa semakin dekat dengan Tuhan dan Bunda Maria. Siang itu pada tahun 2017, sepulang sekolah ia akan mampir ke sebuah toko yang lokasinya berada di seberang jalan. Karena sudah siang, lelah dan lapar, ia menyeberang begitu saja tanpa melihat kiri kanan. Saat itu sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju. Namun tiba-tiba ia merasa ‘seseorang’ menariknya mundur dan ia terhindar dari kecelakaan. Saat itu, ia menyadari tidak ada seorang pun berada di belakangnya. Jantung yang berdetak cepat membuat Lintang terdiam sejenak dan terlintas begitu saja wajah Bunda Maria di batinnya. “Terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu melalui Bunda Maria”, ucapnya dalam hati.

Selain kisah itu, ada juga kisah lain. Lintang yang saat itu duduk di kelas X dan sedang masa ujian, ketiduran dan belum belajar. Tiba-tiba ia bangun dari tidurnya dan merasa seperti ‘seseorang’ baru saja membangunkan dan mengingatkannya untuk belajar agar ujian besok dapat diselesaikan dengan baik. Saat ia duduk dan membuka tempat alat tulisnya, ia melihat ada sebuah rosario di dalamnya. Saat itu lagi-lagi wajah Bunda Maria muncul dalam batinnya.

Masih banyak sekali pengalaman atas penyertaan Tuhan dan Bunda Maria yang dialami, yang jika ingin diceritakan tentu tidak akan ada habisnya karena kasih-Nya pun tidak pernah berkesudahan. Singkat cerita, semakin dekat dengan Tuhan, akan membantu kita semakin menyadari penyertaan-Nya.

Scroll Up