7 Oktober, Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario

Dalam Gereja Katolik, bulan Oktober dikenal sebagai bulan Rosario. Biasanya selama bulan ini umat memperingatinya dengan Doa Rosario lebih rutin, baik secara pribadi maupun bersama kelompok atau kategorial. Doa Rosario merupakan doa devosi yang sederhana dengan manfaat yang besar, tapi tahukah teman-teman apa itu Rosario?

Rosario diartikan sebagai “Mahkota Mawar”. Dalam penampakan Bunda Maria kepada beberapa orang, Bunda Maria menyatakan bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu Salam Maria, mereka memberikan satu kuntum mawar yang indah dan setiap mendaraskan Rosario secara lengkap mereka memberinya sebuah mahkota mawar.

Seperti bunga mawar yang merupakan ratu dari segala bunga demikian juga Rosario sebagai ratu dari segala devosi. Oleh karena itu Rosario merupakan devosi paling penting. Rosario dianggap sebagai doa yang sempurna karena didalamnya mengandung warta keselamatan yang mengagumkan.

Bersamaan dengan Bulan Rosario, umat Katolik di seluruh dunia juga memperingati Santa Perawan Maria Ratu Rosario.

Di setiap penampakan, Bunda Maria selalu berpesan untuk selalu mendoakan doa Rosario sebagai senjata ampuh untuk melawan kejahatan, dan sarana pembawa damai sejahtera.

Suatu hari Bunda Maria berpesan dalam penampakan kepada anakanak di Fatima, “berdoalah Rosario setiap hari…berdoa, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa…akulah Ratu Rosario…pada akhirnya hatiku yang tak bernoda akan menang.”

Ratu Rosario adalah salah satu julukan Bunda Maria karena mukjizat yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571, dimana terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Pantai Yunani, dan dikenal sebagai pertempuran Lepanto.

Kisah dari Bunda Maria sebagai Ratu Rosario ini menggambarkan kepada kita bagaimana dahsyatnya kekuatan dari doa Rosario dan bagaimana doa Rosario dapat memberikan mukjizat ketika kita mengimaninya dengan sungguh-sungguh. Legioner sebagai bala tentara Maria sudah seharusnya setia dalam mendaraskan doa Rosario terutama di bulan Rosario ini sebagai tantangan kesetiaan untuk kita dalam berdevosi kepada Bunda Maria sebagai seorang Legioner.

Kevin Fernando

Doa Rosario

Buku Pegangan Bab 18 halaman 118
Alukosio oleh APR Octavian Elang Diawan – Rapat Senatus ke-396-G/Tahun ke-33


Kita bersama memasuki bulan Oktober yang ditetapkan oleh Gereja sebagai bulan Rosario (bukan bulan Maria lho yah). Gereja menyadari betul bahwa Rosario memiliki peran istimewa dalam kehidupan iman Gereja.

Doa Rosario sudah dikenal di kalangan ordo Dominikan sejak abad XIII, tetapi baru memasyarakat setelah kemenangan tentara Kristen atas pasukan Turki di Lepanto. Pertempuran Lepanto adalah pertempuran laut yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 1571 di Teluk Lepanto. Tentara Kekaisaran Ottoman berperang melawan tentara koalisi Kristen, yang disebut Liga Santa. Pertempuran itu melibatkan 6 kapal perang milik tentara Kristen melawan 208 kapal Ottoman. Selain itu, masing-masing pihak menurunkan sekitar 100.000 orang untuk berperang. Kekalahan tentara Turki merupakan pukulan yang telak dengan penenggelaman dan penahanan 205 kapal mereka, 30.000 korban jiwa, dan 8.000 tahanan perang.

Armada Kekaisaran Ottoman pada mulanya nampak tak terkalahkan. Namun kemenangan tentara Kristen yang dipimpin oleh Kekaisaran Spanyol, atas armada Turki di Teluk Lepanto memicu euforia di Roma. Di Roma Paus Pius V sibuk melakukan suatu hal yang tidak pernah akan dapat dilupakan dalam sejarah kekristenan.

Pertempuran berlangsung pada hari Minggu pertama bulan Oktober tahun itu dan kemenangan yang diraih diyakini sebagai akibat pertolongan “Rosario Santa Perawan Maria”. Sejak saat itu, doa Rosario menjadi populer di kalangan umat.

Pertempuran Lepanto

Menurut berbagai laporan, selama pertempuran berlangsung, di Roma Paus Pius V menunggu hasil perang sambil berdoa Rosario. Di tengah doa, beliau keluar dari kapel dan mengumumkan kepada semua umat beriman yang hadir, bahwa dalam sebuah penampakan beliau melihat Allah memberikan kemenangan kepada tentara Kristen dengan perantaraan doa Santa Perawan Maria. Demikianlah, setiap tanggal 7 Oktober Gereja Katolik merayakan peringatan wajib Rosario Santa Perawan Maria.

Rosario (dari bahasa Latin rosarium “mawar”) adalah doa tradisional Katolik yang merenungkan dua puluh “peristiwa” dalam kehidupan Yesus Kristus dan Bunda Maria. Doa ini mulai diperkenalkan sekitar tahun 800-an, untuk menggantikan doa Mazmur bagi umat yang buta huruf. Pada akhir abad pertengahan doa ini mulai ditinggalkan umat, sampai Beato Alano de la Roca menghidupkannya kembali di Köln (Jerman) pada abad ke-15.

SIKAP BATIN DALAM DOA ROSARIO

Yang pertama, pusat doa Rosario adalah Tuhan Yesus Kristus, karena Rosario adalah saripati peristiwa Injil. Maka baik kiranya kita bisa berdoa Rosario untuk semua peristiwa, artinya janganlah kita mengidolakan sebuah peristiwa tertentu dan terpaku pada satu peristiwa itu saja setiap kali berdoa Rosario.

Yang kedua, dalam melaksanakan Doa Rosario hendaklah batin kita benar-benar terisi oleh tenaga kekaguman akan kasih Allah melalui pengurbanaan Kristus, terisi dengan luapan rasa syukur kepada Allah atas pemeliharan jiwa dan badan kita, terisi dengan semangat untuk memperbaiki kualitas hidup rohani kita, serta terisi dengan pernyataan ungkapan-ungkapan iman yang meneguhkan dan menunjukkan ketergantungan kita pada Allah.

Seperti halnya Doa Rosario diyakini telah membawa laskar Kristen memenangkan pertempuran dahsyat di Lepanto, maka doa Rosario yang sama kiranya akan memampukan kita memenangkan peperangan dahsyat masa kini, di mana Gereja sedang berperang melawan arus sekularisme, hedonisme, materialisme, dan lain-lain. Tuhan memberkati. Ave Maria.

Talkshow #1 : Legioner Bergaul Akrab dengan Kitab Suci

Sumber : panitia rangkaian kegiatan 100 tahun Legio Maria

Dalam rangka menyambut 100 tahun Legio Maria, Dewan Senatus Bejana Rohani dan panitia telah mempersiapkan rangkaian acara. Salah satu acara itu adalah talkshow yang bertujuan untuk menumbuhkan iman legioner. Talkshow akan diadakan sebanyak 12 kali yaitu setiap bulan pada minggu ke empat hingga 7 September 2021 secara live streaming melalui channel youtube Legio Maria Senatus Bejana Rohani. Ada pun talkshow pertama telah terlaksana pada hari Sabtu (26/9).

Talkshow yang hanya berdurasi satu jam tersebut banyak mendapat kesan positif dari para legioner yang menontonnya. Menurut mereka, talkshow pertama ini berlangsung dengan ringkas, jelas, mudah dipahami, mengena, dan tentunya tidak membosankan. Tema yang diangkat juga disesuaikan dengan bulan September yang dalam liturgi Gereja Katolik diperingati sebagai bulan Kitab Suci.

Talkshow dipandu oleh moderator Maria Apolonia Narahawarin – Legioner Kuria Cermin Kekudusan, Kampus.

Dengan pembicara imam oleh RD Robertus Guntur Dewantoro – Pastor Rekan Paroki St. Agustinus, Halim Perdana Kusuma dan APR Senatus Bejana Rohani tahun 2015. Selain itu juga ada dua orang pembicara awam yaitu Lusiana Palayukan – Legioner Komisium Maria Immaculata, Jakarta Barat 2 dan Kornelia Agnes Juliati – Legioner Komisium Our Lady of the Holy Family, Jakarta Timur.

Dalam talkshow tersebut, kedua pembicara awam memberikan sharing pengalaman hidup, bagaimana mereka merasa diteguhkan dengan ayat Kitab Suci yang mereka baca dan renungkan, sehingga mampu melalui suka duka dan setiap permasalahan hidup yang terjadi.

“Kitab Suci sangat penting bagi kita karena bukan hanya tubuh kita yang membutuhkan makanan, tetapi juga jiwa kita. Manusia itu hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi juga dari Firman Tuhan.

Firman Tuhan adalah pelita dan makanan bagi jiwa kita”, ungkap Lusiana yang juga merupakan ketua sub seksi katekumenat di Paroki St. Kristoforus – Grogol.

“Mengapa legioner harus membaca Kitab Suci?” tanya moderator kepada Lusiana. Ia lalu menjawab bahwa dalam doa Beatifikasi Hamba Allah Frank Duff pun, jelas disebutkan Bapa Frank Duff mendirikan Legio Maria sebagai tanda cinta kasih Bunda Maria bagi dunia dan sebagai sarana untuk melibatkan semua legioner dalam tugas gereja mewartakan injil. Selain itu, maskot Legio Maria adalah Bunda Maria sendiri, ia merupakan Ibu Yesus dan Yesus adalah firman yang menjelma menjadi manusia.

Agnes yang merupakan pembicara awam muda dan sudah ikut legio sejak sekolah sasar juga memberikan tips sederhana bagaimana agar anak muda membaca Kitab Suci. Tentunya anak muda saat ini tidak lepas dari gadget.

Oleh karena itu, jangan lupa men-download aplikasi e-Katolik, lalu posisikan aplikasi itu persis di sebelah aplikasi media sosial atau game yang paling sering kita buka. Sehingga setiap kali kita membuka aplikasi favorit, kita akan diingatkan untuk membaca Kitab Suci.

Sumber : https://youtu.be/KFli_dke6Xg

Menurut Rama Guntur, hubungan antara Kitab Suci dengan legioner dibagi menjadi tiga hal. Pertama, legioner adalah bala tentara Maria yang bergerak sesuai satu komando, dalam hal ini dikomando oleh Senatus Bejana Rohani sesuai arah gereja dan tentunya dengan meneladani semangat Bunda Maria. Kitab Suci dan semangat legioner ini tidak dapat dipisahkan. Kedua, Kitab Suci ibarat surat cinta Tuhan kepada anak-anak-Nya. Kita tidak mungkin mencintai tanpa mengenal, tidak mungkin mengenal tanpa memahami, tidak mungkin memahami tanpa kita sungguh-sungguh belajar. Jadi jika kita tidak sungguh-sungguh mempelajari Kitab Suci, bagaimana bisa kita mencintai Tuhan? Ketiga, kita bisa teguh dan kuat dalam menghadapi permasalahan kehidupan karena didasari iman kepada Tuhan yang pasti tertuang dalam ayat-ayat Kitab Suci, sehingga baik bagi kita untuk menemukan ayat yang sunguh-sunguh dapat menjadi pegangan/ pedoman bagi kita dalam mengahadapi permasalahan hidup agar dapat menjalani hidup dengan penuh syukur.

Selain berbincang-bincang dengan tiga orang narasumber, dalam talkshow ini juga ada live chat yang menerima berbagai pertanyaan terkait Kitab Suci dari para legioner dan Rama Guntur pun menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Apakah membaca buku pegangan Legio Maria sudah cukup dibandingkan membaca Kitab Suci? Sebaiknya berapa kali membaca Kitab Suci dalam sehari/ berapa lama? Dimana kita sebaiknya membaca Kitab Suci? Apakah jika tidak membaca Kitab Suci merupakan dosa? Membaca dan berdoa dengan Kitab Suci, apakah merupakan dua hal yang berbeda? Lebih baik membaca Kitab Suci Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama? Apakah membaca Kitab Suci melalui aplikasi online atau buku Ruah/Ziarah Batin sudah cukup atau harus menggunakan Kitab Suci fisik? Jika sudah mengikuti misa online setiap hari, apakah masih perlu membaca Kitab Suci lagi? Pada saat rapat legio, alukosio lebih baik diambil dari buku pegangan atau Kitab Suci? Lebih baik membaca atau mendengarkan ayat Kitab Suci?

Hmm…pertanyaannya menarik bukan? So, kalau kamu ingin tahu semua jawaban pertanyaan di atas, jangan lupa nonton talkshow #1 di channel youtube Senatus Bejana Rohani yaaahh… See you on talkshow #2!

Berita Konsilium Agustus 2020

Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan kehidupan manusia. Namun demikian, Legio Maria di mana pun berada, tetap berusaha untuk merasul. Berikut ini beberapa cerita dari para legioner di negara maju dan berkembang. Sumber : https://www.legionofmary.ie/


AMERIKA SERIKAT

Negara besar ini memiliki 9 Senatus dan 2 Regia. Rapat dilakukan secara virtual. Di beberapa senatus ada anggota Legio yang meninggal akibat virus Covid-19. Semoga Bapa Surgawi membawa para legioner ini dalam damai abadi di surga karena kerahiman Allah.

Di Senatus Houston, para legioner melakukan doa novena dan rosario selama 54 hari sejak Perayaan Maria Diangkat ke Surga dengan intensi agar wabah virus Covid-19 segera berakhir. Sedangkan di Senatus St. Louis, ada anggota yang melakukan evangelisasi melalui internet. Sebelum wabah Covid-19 terjadi, Senatus New York banyak melakukan kunjungan rumah dan membawa banyak orang kembali ke Gereja, bahkan di sebuah paroki, presidium baru beranggotakan 8 orang berhasil terbentuk.

Selama wabah Covid-19, tugas-tugas yang dilakukan Regia Arlington antara lain : kontak auksilier lewat telpon, mengirimkan kartu ucapan bagi para pasien, pendalaman Kitab Suci, dan presentasi kehidupan Edel Quinn secara virtual.

Senatus Cincinnati melakukan doa rosario virtual bersama para lansia di panti wreda dan mengajak para auksilier berpartisipasi. Selain itu, pada masa pandemi, para anggota ditingkatkan keanggotaannya menjadi pretorian.

Senatus San Fransisco melakukan kunjungan penjara secara virtual dan berdoa di depan patung Bunda Maria di depan rumah-rumah perawatan. Mereka juga mengadakan seminar “Buku Pegangan Legio sebagai sarana kateketik.”

Di Senatus Chicago, sebuah presidium membantu pastor paroki mensterilkan gereja tiap akhir pekan. Sebuah presidium di Senatus Boston membuat masker dan berbelanja untuk para lansia selama PSBB.


HINDIA BARAT

Hindia Barat memiliki Senatus di Haiti dan Puerto Rico, serta dua senatus lainnya di Republik Dominicana. Ada pula sebuah Regia di Trinidad dan Tobago.

Para legioner melakukan kontak telpon kepada auksilier dan orang sakit, menghibur keluarga yang berduka akibat Covid-19, mengajak umat ikut misa live streaming, serta berdoa bersama penderita depresi. Di Republik Dominicana ada 38 anggota legio yang meninggal akibat virus Covid-19. Semoga Bapa Surgawi membawa mereka dalam damai abadi di surga.

Di Regia Trinidad dan Tobago para legioner sudah mulai rapat sejak Juli 2020. Mereka berhasil membentuk presidium junior di sekolah khusus anak perempuan. Uskup Agung memberi tantangan untuk membentuk 100 presidium junior sampai dengan 7 September 2021!


ITALIA

Komisium Padua tidak bisa mengadakan rapat sejak Februari 2020 dan merupakan daerah terparah yang terpapar Covid-19. Sekretaris komisium adalah seorang dokter dan ia mengajak para perawat untuk berdoa dan bernyanyi bagi para pasien, serta mendoakan pasien yang menghadapi ajal.

Di Senatus Roma sebagian dewannya sudah mulai rapat.


IRLANDIA

Para legioner mengadakan rapat virtual serta membagikan leaflet doa rosario dan Frank Duff dalam kotak-kotak surat di perumahan-perumahan.

Dalam rangka persiapan 100 tahun LM, Myra House, rumah pertama tempat berdirinya Legio Maria akan direnovasi. Selain itu, para legioner juga berdoa bagi proses kanonisasi Hamba Allah Frank Duff.


AFRIKA

Nigeria. Memiliki 2 senatus dan 3 regia. Tugas-tugas yang dilakukan antara lain, kunjungan rumah, rumah sakit, juga rumah pelacuran, banyak orang yang kembali ke Gereja dan perkawinan diteguhkan.

Tanzania. Presidium yang pernah didirikan oleh Yang Terberkati Edel Quinn masih berdiri dan saat ini memiliki 10 anggota aktif dan 2 auksilier. Presidium yang terletak di Regia Dar-es-Salaam ini melakukan kunjungan rumah sakit dan penderita kanker.

Kabar Senatus September 2020

“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)


Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.


JAKARTA

Kuria Mater Dei – Jakarta Utara 1: Rapat dewan online sudah berhasil dilakukan. Dewan ini aktif dalam Gerakan Layani Orang Tua (Gelora) di Paroki Kelapa Gading, bekerja sama dengan beberapa seksi dan kategorial lain.

Kuria Rosa Mystica – Jakarta Selatan 2: Rapat dewan dan online sudah berhasil dilaksanakan. Masih ada beberapa presidium yang tidak dapat rapat online karena anggota presidium yang sudah lansia. Selain itu, presidium seminari juga tidak dapat melakukan rapat rutin karena sebagian besar siswa seminari yang dipulangkan. Salah satu presidium di dewan kuria ini juga membuat masker kain dan membagi-bagikannya kepada warga lingkungan.

Kuria Tahta Kebijaksanaan – Jakarta Utara 3: Rapat dewan online sudah berhasil dilaksanakan. Terdapat kendala dalam rapat presidium junior, banyak orangtua yang keberatan anaknya mengikuti rapat legio virtual karena sekolah dan les juga virtual.


BOGOR

Komisium Bintang Timur – Bogor: Komisium ini telah melakukan sosialisasi Legio Maria di Paroki Kristus Raja Rangkasbitung pada Februari 2020, namun belum membuahkan hasil. Komisium ini sudah memulai kebiasaan merawat bumi dengan mengurangi pemakaian kertas, meminta legioner peduli sampah, dan pantang pantikfom. Selama masa pandemi, legioner mengunjungi umat gereja secara online, menyapa, dan bercakap-cakap.


KALIMANTAN

Komisium Santa Maria Perawan yang Setia – Pontianak: Komisium ini sudah dapat melaksanakan rapat legio tatap muka dengan protokol kesehatan. Selama masa pandemi, legioner di komisium ini melakukan aksi belarasa, bekerja sama dengan seksi dan kategorial lainnya.

Aduh, Deg-degan…

Sis, jawab sis,” chat Erwin Rinaldi secara personal. “Duh, pelindungnya gereja Katedral Jakarta tuh Santa Perawan Maria diangkat ke Surga bukan yah? Jawab Santa Perawan Maria aja, deh. Nggak yakin nih,” batin salah seorang peserta. Dan sekian menit kemudian, Erwin jerit-jerit di chat, “Siiisss, kurang lengkap, sis. Maknanya beda,”. Ah… baiklah, terpaksa gugur dibabak ketiga ini.

Kamis (20/8) siang itu, Komisium Maria Immaculata – Dekenat Jakarta Barat II sedang mengadakan kuis Legio Maria berkaitan dengan buku pegangan, kewarganegaraan, dan iman Katolik secara umum. Niat utamanya adalah untuk semakin mengenal Legio Maria, iman Katolik, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi karena ada wabah virus covid19 yang membuat kita semua mengalami masa sulit dari berbagai sisi, niatnya jadi ditambah untuk menjaga semangat kebersamaan dalam sukacita.

Nah, kuis ini dilakukan secara online melalui salah satu aplikasi chat yang pasti dikuasai oleh berbagai usia : whatsapp. Sebanyak 66 orang hadir sebagai peserta, termasuk peserta undangan dari Lampung dan bahkan Pontianak. Secara keseluruhan, kuis ini dibagi menjadi empat babak. Babak pertama dan kedua adalah 10 soal pilihan ganda, dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Babak ketiga adalah tebak gambar, dengan maksimal waktu yang dimiliki peserta sekitar 25 detik untuk mengetik jawaban. Sementara babak finalnya merupakan video call secara terpisah dengan enam finalis yang berhasil bertahan. “Deg-degan gue jawabnya. Saking nervous-nya, gue cuma bisa ketawa doank. Hahaha,” cerita Meliana Lie, salah satu finalis, seusai menyelesaikan sesi video call-nya bersama dewan juri. Gitu-gitu dia berhasil menjadi juara tiga, loh

Saat ditanya mengenai persiapannya, Enny Lestari selaku salah satu panitia pembuat soal mengatakan bahwa hal yang paling membuat khawatir adalah apakah akan ada peserta atau tidak. Bukan karena ini diadakan secara online yang butuh kuota internet dan sinyal bagus, tapi karena biasanya orang suka males ikut kuis. Takut kalah dan dipermalukan.

Padahal ini hanya permainan, yang tujuannya adalah untuk bersenang-senang namun berfaedah. Nggak percaya? Nih, cek tautan berikut di browser masing-masing yah : https://youtu.be/LamuotDq_TI.

Eiya, ada bocoran dari panitia rangkaian kegiatan 100 tahun Legio Maria. Tanggal 18 Oktober 2020 nanti, rencananya akan ada kuis Legio Maria online lagi loh, dengan peserta antar senatus. Dan di Indonesia, kita punya tiga dewan senatus. Begh… ke bayang nggak sih serunya kayak gimana nanti? Ikut gih, siapa tahu hadiahnya jalan-jalan ke Dublin, ye kan.

Tetap Berbela Rasa Selama Masa Pandemi

KOTA BARU, BANJARMASIN. Di masa pandemi, Paroki Keluarga Kudus – Kota Baru memberikan bantuan berupa 250 paket sembako kepada warga prasejahtera dan korban PHK (Katolik dan non Katolik) yang tinggal di sekitar gereja. Legioner pun berpartisipasi membantu proses distribusi paket ini.

Selama proses distribusi tersebut, legioner menyadari bahwa paket tidak disertai dengan sayur-sayuran. Padahal di masa pandemi ini, warga bukan hanya sekedar membutuhkan makan kenyang dengan beras dan indomie, namun justru membutuhkan makanan sehat.

Menyadari kondisi itu, legioner pun berinisiatif menambahkan sayur-sayuran dalam paket yang dibagikan tersebut. Dengan bermodalkan dana pribadi ditambah sumbangan dari umat lainnya, legioner dapat menyediakan 150 paket sayur (kangkung, cabai, tomat, daun singkong, dll). Dan Paroki bersedia menambahkan kekurangan 100 paket. Yang unik adalah sayur ini berasal dari kebun sayur milik legioner yang berprofesi sebagai petani.

Legioner juga membantu membuatkan kupon berisi jam pengambilan untuk dibagikan kepada keluarga prasejahtera yang sudah terdaftar, sehingga tidak menimbulkan kerumunan orang.

JAKARTA SELATAN 2. Sebuah presidium yang tergabung dalam Kuria Rosa Mystica berinisiatif membuat masker kain dan membagikannya kepada warga yang membutuhkan, termasuk supir angkot dan ojeg. Kegiatan berbagi ini disambut baik oleh warga lingkungan sekitar, sehingga pembuatan masker kain terus berlanjut untuk dibagi-bagikan.

TANGERANG. Legioner di Komisium Maria Assumpta, Tangerang bekerja sama dengan sie HAAK Paroki melakukan penyempotan disinfektan di perumahan warga dan membagikan sembako. Selain itu, legioner juga membantu membagikan masker dan APD yang berasal dari donator ke Puskesmas.

Tugas Kunjungan Anti Mainstream

Oleh : Tyas Apriyanto


Selama ini, apa sih yang terbayang di benak kita kalau kita denger tugas kunjungan? Mungkin banyak di antara kita yang langsung mikir antara kunjungan ke orang sakit, lansia, atau penjara. Tapi sebenernya tugas kunjungan nggak cuma terbatas itu doank, loh. Kunjungan ke museum rohani adalah salah satu bentuk tugas kunjungan yang bisa dibilang anti mainstream. Nih, simak lebih lanjut yah

Terdorong oleh rasa haus untuk bisa mengenal iman Katolik dengan lebih baik, Dewan Komisium Bekasi dan Dewan Komisium Jakarta Timur melakukan tugas kunjungan ke museum rohani. Dewan Komisium Bekasi memilih kunjungan ke museum Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia, sementara Dewan Komisium Jakarta Timur memilih ke museum Yerushalayim dan museum sejarah gereja Katolik. Hayo, gugling sana kalau nggak tahu tempatnya di mana…

MUSEUM ALKITAB

Museum ini memiliki beberapa ruangan, antara lain ruang perpustakaan tempat Alkitab dalam berbagai bahasa asing maupun bahasa daerah disimpan,

ruangan yang jenis peralatan musik maupun jenis biji-bijian pepohonan yang banyak disebutkan di dalam Alkitab, serta maket miniatur Bait Allah. Selain itu ada toko buku yang menjual Alkitab berbagai ukuran huruf, serta banyak buku-buku rohani, dan bahan-bahan pelajaran sekolah minggu.

Pada Alkitab umat Katolik terdapat kitab-kitab tambahan yang disebut Deuterokanonika. Dari hasil tanya jawab pada saat kunjungan dengan saudara presentator yang beragama Protestan, ternyata banyak ‘saudara muda’ kita yang sekarang membaca dan mempelajari kitab-kitab Deuterokanonika. Begh, bangga nggak sih?

MUSEUM YERUSHALAYIM

Museum ini berisi bentuk fisik benda-benda rohani yang disebutkan di dalam Alkitab, seperti buah ara kering, pohon ara, biji sesawi, sesawi, kacang merah Yakub, sangkakala, nafiri, tabernakel, Bait Suci,

mahkota duri, paku penyaliban, kirbat air mata, bahtera Nuh, jumbai jubah, tali sembahyang, alat penampi, tanaman Israel, model Bait Allah, pakaian Firaun beserta Ratu, dan sebagainya.

MUSEUM SEJARAH GEREJA KATOLIK

Pembuatan museum yang lebih dikenal sebagai museum Katedral ini diprakarsai oleh pastor kepala Katedral pada waktu itu, yaitu Pater Rudolf Kurris. Hal ini berawal dari rasa cinta Kurris terhadap sejarah dan benda-benda bersejarah. Menurutnya, benda-benda bersejarah itu dapat membangkitkan rasa kagum manusia terhadap masa lampau dan keinginannya menyalurkan pengetahuan dari generasi ke generasi. Pada tanggal 28 April 1991, Mgr. Julius Darmaatmadja telah meresmikan museum ini.

Di museum ini, kita akan menemui koleksi benda sejarah khas Katolik yang menjelaskan perkembangan gereja Katolik di Nusantara, misalnya kursi romo jaman dulu besar dan berukir, patung Maria berkonde dari kayu, jubah-jubah romo dan perubahannya, sulaman-sulamannya, dan lukisan dari batang pohon karya Kusni Kasdut.

Ada kalimat bijak yang mengatakan begini,“untuk mencari tahu di mana kita berada sekarang dan akan kemana kita nanti, kita harus mengetahui di mana kita pernah berada sebelumnya”. Dan karena itu lah, kunjungan ke museum bisa menjadi sebuah tugas yang menarik untuk lebih mengenal siapa kita sebagai seorang Katolik. So, siapa bilang kunjungan ke museum itu nggak greget? Tapiii… setelah pandemi selesai yah.

8 September, Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Oleh : Anson Santoso


Bagi umat Katolik tentunya tidak asing lagi dengan tokoh Ibu kita Bunda Maria. Kita para legioner yang berdevosi kepada Bunda Maria, tentunya diharapkan lebih dekat dengan Ibu Tuhan kita Yesus Kristus, yakni Bunda Perawan Suci Maria. Begitu mendalam pemahaman tentang Bunda kita ini, di mana terdapat bagian teologi di ajaran Gereja kita yang disebut “Mariologi”, yang mempunyai beberapa institusi pendidikan dan penelitian di beberapa negara.

Bunda Maria dilahirkan dalam keluarga saleh oleh orang tuanya Santo Yoakim dan Santa Anna. Ia dididik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, baik secara teoritis (kitab-kitab Taurat Yahudi), maupun dalam perbuatan sehari-hari.

Saya teringat katekese tentang Bunda Maria yang disampaikan oleh Pastor Andre SDB, Pastor Paroki Danau Sunter. Beliau mengajukan pertanyaan, “Apakah kita bisa menjadi seperti Bunda Maria?”. Umat yang hadir membisu seribu bahasa ketika mendengar pertanyaan yang mungkin tidak pernah dibayangkan. Muncul pertanyaan berikutnya, “Apakah kita layak menjadi seperti Bunda Maria yang teramat suci itu?”.

Mengagetkan karena jawabannya adalah kita bisa. Beliau memaparkan bahwa, “Kita bisa, asalkan iman kita benar-benar terdidik dengan sangat baik seperti Santo Yoakim dan Santa Anna mendidik Bunda Maria. Juga asalkan kita menolak segala –ya, segala- bentuk dosa dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak lupa kita pun harus mau melaksanakan kehendak-Nya saja”.

Bunda Maria yang acapkali menjadi perantara doa-doa kita kepada Tuhan melalui doa Novena Tiga Salam Maria, atau kita yang merasa dikuatkan melalui doa Rosario, mempunyai beberapa sejarah menarik. Misalnya, kemenangan pasukan Eropa/ Kristiani atas invasi pasukan Turki pada tahun 1571, atau kisah orang kudus Santo Dominic Savio yang menceritakan kepada gurunya -Santo Don Bosco- bahwa yang menolongnya pada saat ajalnya ialah Bunda Gereja kita.

Bunda Maria yang secara dogma Gereja berperan secara mediatrix (sebagai mediator antara Tuhan Yesus dan manusia) serta co-redemptrix (pendamping) dikenal sebagai Bunda para pendosa. Ada satu pengalaman unik saat saya menempuh pendidikan di Sanggau, Kalimantan Barat. Seringkali saya diminta untuk mengembalikan rantang makanan, yang perjalanannya harus melewati hutan pada saat malam hari. Di lokasi tujuan terdapat 2-3 anjing penjaga yang cukup galak. Setiap kali anjing itu berlari atau menggonggong ke arah saya, saya berdoa Salam Maria. Alhasil mereka langsung menjadi tenang, tidak lagi menggonggong, dan berbalik badan. Pengalaman ini mengingatkan saya pada sebuah lukisan Bunda Maria yang pernah saya lihat. Dalam lukisan yang berukuran besar itu, Bunda Maria dengan jubahnya melindungi orang-orang yang sedang dalam ketakutan. Manusia dari berbagai macam profesi dan kedudukan sosial di dunia berlindung dibalik jubah Bunda Maria.

Acapkali dengan perantaraan Bunda Maria, Tuhan mengabulkan doa-doa saya, khususnya di saat saya berdoa Novena Tiga Salam Maria. Begitu pula saat saya berdoa Rosario, Salam Maria, atau Catena Legionis, saya merasa hati menjadi tentram dan mampu menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya dan kita semua bersyukur atas kelahiran Bunda Maria lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kita mendapatkan Bunda Surgawi, yang mana olehnya, Tuhan kita Yesus Kristus mustahil menolak permohonan sang Bunda yang telah mengikuti kehendak Tuhan selama hidupnya di dunia ini.

Terima kasih, Bunda Maria. Selamat ulang tahun Bunda Surgawi, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda kita semua.

sumber : katolisitas-indonesia.blogspot.com

100 Tahun Legio Maria : Sejarah dan Inspirasi Awal

Di awal tahun 1900an ketika Dublin, Irlandia merupakan satu wilayah di Eropa yang mengalami keterpurukan kondisi perekonomian karena banyak pengangguran dan kemiskinan, Serikat Santo Vincentius (SSV), menjadi sebuah organisasi/ kelompok tumbuh hadir untuk membantu pemenuhan kebutuhan jasmani.

Seorang awam, Frank Duff (24 tahun), didasari oleh keprihatinan pada sesama yang menderita dan semangat misioner yang bergelora dalam hatinya, serta keinginannya yang sederhana untuk dapat melakukan sesuatu yang berguna, untuk berjumpa dengan Kristus sendiri dalam diri sesama yang menderita, maka pada 1913 Frank Duff mendaftarkan diri menjadi anggota kelompok SSV.

Duff, sebagai seorang anggota SSV, tentulah ia memiliki devosi yang mesra kepada Maria, dalam perjalanannya Duff juga membaca dan terinspirasi dari buku “Bakti Sejati kepada Maria”, karangan St Louis Marie de Montfort. SSV terus bertumbuh dan mekar, Frank Duff menjadi ketua dan berpusat di Myra House, Dublin. Dalam setiap pertemuan bulanan selalu mengagendakan diskusi dari buku Bakti Sejati. Dalam sebuah pertemuan, anggota menceritakan kunjungan menarik saat ke rumah sakit di Dublin.

Berawal dari kunjungan tersebut, Frank Duff dan bersama beberapa orang merasakan perlunya lanjutan untuk membahas hal tersebut dan disepakati pertemuan pada 7 September 1921, yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Legio Maria.

7 September 1921 jam 20:00 Lahirnya Legio Maria

Frank Duff, Pastor Michael Toher dan 13 orang wanita yang mayoritas gadis muda berkumpul. Tak seorang pun yang sadar bahwa hari yang mereka tentukan adalah malam menjelang Pesta Kelahiran Bunda Maria, 8 September. Frank Duff sangat terpesona dengan penataan ruang pertemuan, di atas meja ada patung Bunda Maria Tak bernoda dengan bunga dan lilin di sekitarnya, hal ini sama persis dengan penataan altar pertemuan legio saat ini (tentu saja belum ada Veksilum).

Diyakini bahwa Bunda Maria sendirilah yang hadir mendahului mereka untuk menyambut mereka yang mendaftarkan diri untuk melayani dia.

Mereka bukan saja datang untuk membentuk sebuah perkumpulan (organisasi) melainkan untuk menyediakan diri bagi suatu tugas pelayanan, untuk mencintai dan melayani seseorang. Patung itu mengingatkan mereka bahwa Maria selalu hadir di tengah mereka. Pada awalnya, perkumpulan itu dinamakan Perserikatan Maria Berbelaskasih dan kemudian menjadi LEGIO MARIAE.

Anggotanya berusaha melaksanakan dalam hidupnya seperti ajaran “Bakti Sejati kepada Bunda Maria” menurut St. Montfort yang menekankan pada pelayanan praktis, yaitu melayani Bunda Maria, bukan hanya dalam perkataan melainkan juga dalam perbuatan.

Mereka akan melayani dia dengan melayani Puteranya Yesus Kristus yang hadir dalam setiap manusia yang mereka jumpai; melayani Kristus yang menderita dalam diri para pasien di rumah sakit, menghibur Yesus yang kesepian dalam diri orang yang hidup sendirian, bertemu dengan kanak-kanak Yesus dalam diri anak-anak yang mereka jumpai, mencari Kristus yang tersalib dalam diri setiap pendosa.

Dengan memandang patung Maria di atas altar legio, mereka selalu diingatkan bahwa Bunda Kristus sendirilah yang mengutus mereka untuk suatu tugas isitimewa. Mereka selalu bergantung kepadanya dan berjuang untuk menjalani hidup yang suci dalam persatuan dengan dia. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa panggilan mereka adalah: “Melayani Bunda Maria, demi kemuliaan Allah”. Inilah inspirasi awal yang terus kita hidupi dalam perjalanan pelayanan Legio Maria.

Perluasan Legio Maria
Dalam perkembangannya, Legio Maria mulai tersebar di beberapa belahan dunia, 1929 di Skontlandia, Inggris, India, Amerika, Australia, Selandia Baru, Afrika dan Amerika Latin, China, lalu kemudian di negaranegara Eropa daratan. Legio Maria masuk Indonesia pada 1951 melalui Medan, oleh seorang envoy bernama Miss Theresia Shu (Legioner di Universitas Hongkong), lalu menyebar ke Padang, Pekanbaru, Sidikalang, Tanjung Karang dan Pangkal Pinang. Legio juga menyebar ke Pulau Kalimantan yakni Pontianak, Singkawang, Sambas dan terus ke arah timur, Pulau Flores Nusa Tenggara Timur yakni Maumere.

Pada tahun 1952, Pater Paul Janssen CM, yang baru kembali dari Filipina, tempat Legio Maria berkembang dengan pesat, mendirikan presidium pertama di Kediri, Jawa Timur, lalu meluas ke Surabaya, Malang, Blitar dan Madiun pada tahun 1953. Dengan perkembangannya, mulai dibentuklah dewan legio yaitu Kuria Malang pada 1954.

Di Jawa Barat, Legio Maria mulai masuk pada tahun 1956 menyebar dari Cirebon, Yogyakarta pada tahun 1969 dan meluas ke Semarang dan Surakarta. Sedangkan di Jakarta, mulai dengan presidium sekitar tahun 1977-1978 dan tersebar luas di Indonesia.

Saat ini Legio Maria di Indonesia telah berkembang di 33 provinsi, 35 Keuskupan, dengan jumlah legioner sebanyak 66.000 orang di dalam naungan tiga Dewan Senatus di Indonesia, yaitu Senatus Bunda Maria Karmel, Malang (5 Juli 1964), Senatus Bejana Rohani, Jakarta (29 Maret 1987) dan Senatus Maria Diangkat ke Surga, Kupang (8 September 2019). Bersambung….