Sumber berita : Dewan Kuria Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah
Di masa pandemi ini, saat rapat tatap muka tidak dapat dilakukan seperti biasa, legioner didorong untuk melakukan rapat legio online. Kali ini tim redaksi e-Bulletin meliput aktivitas rapat online legioner di Pangkalan Bun.
Menarik perhatian karena di saat legioner di kota-kota besar banyak yang enggan untuk mengikuti atau mengadakan rapat legio secara online meskipun segala fasilitas sudah memadai, saudara-saudari legioner di Pangkalan Bun dan sekitarnya justru merindukan rapat legio di tengah keterbatasan fasilitas.
Terinspirasi dari rapat online Senatus di bulan Juni yang diikuti oleh Saudari Yanti – Ketua Kuria Santa Bunda Allah, Pangkalan Bun. Pada rapat ini, beliau mendengar bahwa Legio Maria di Kalimantan Timur dan di kota lain di luar pulau Jawa berhasil mengadakan rapat legio secara online. “Lalu mengapa Kuria Pangkalan Bun tidak mencobanya? Legioner di Kuria Pangkalan Bun juga rindu koq hadir rapat legio”, ucapnya. Saudari Yanti lalu berusaha memulai rapat online di presidiumnya sampai empat kali sebelum menerapkannya dalam rapat Kuria. Dalam rapat online kuria ini, para anggota berusaha mencari wifi yang baik walaupun harus berjalan atau bekendara jauh ke pastoran.
Kuria yang terdiri dari sembilan presidium senior dan tujuh presidium junior yang tersebar di tiga paroki ini akhirnya berhasil melaksanakan rapat online perdana pada tanggal 6 September 2020 di Paroki St. Yohanes Paulus II, Pangkalan Banteng. Tentunya setelah mendapat izin ruangan dan akses wifi dari Pastor Paroki yang juga adalah Pemimpin Rohani Presidium. Beliau juga hadir dalam rapat kuria online ini. Ada 15 legioner yang hadir, mereka dengan semangat ke pastoran paroki setempat untuk mendapat jaringan wifi yang baik sehingga dapat mengikuti rapat dengan lancar. Walaupun belum semua perwira presidium dapat hadir dalam rapat online ini, setidaknya semangat ini dapat dirasakan oleh seluruh legioner di Kuria Santa Bunda Allah.
Sekilas cerita sebelum pandemi : untuk rapat Kuria, sebagian perwira presidium harus saling menyewa dan menumpang mobil, lalu bersama-sama menempuh jarak selama sekitar tiga jam dengan jalanan yang tidak mulus.
Seluruh perjuangan ini dapat terwujud, pastinya tidak lepas dari dukungan dari keluarga masing-masing. Dukungan keluarga berupa pengertian, materi, waktu, dan keluarga yang mau mengajarkan legioner senior untuk menggunakan gadget sehingga dapat mengikuti rapat. Setelah rapat online selesai, mereka tidak langsung membubarkan diri, namun menginformasikan kepada Pastor mengenai tema 100 tahun Legio Maria dan rencana mengadakan seminar online. Setiap bulan, Kuria ini berupaya untuk mengadakan rapat secara rutin.
Jadi, bagaimana dengan kamu yang ada di kota besar dengan akses internet yang lancar? Sudahkah kamu berupaya rapat online dan rutin hadir rapat mingguan presidium? Di masa pandemi ini, saling bertemu walaupun hanya secara online, sungguh dapat menguatkan satu sama lain.
Ibu Julieta, seorang legioner yang datang dari Filipina ke Indonesia pada saat usianya yang ke 30-an tahun. Beliau yang saat ini aktif di Kuria Mater Christi – Jakarta Pusat 1 bercerita bahwa saat itu terdapat gap antar umat beragama, bahkan di antara umat Kristiani sekalipun. Sambil mengenangnya, beliau mengatakan bahwa kondisi masyarakat zaman sekarang sudah lebih baik, khususnya di RT/ RW tempat tinggalnya. Beliau bersyukur karena warga yang berbeda agama dapat membaur. “Gap pasti selalu ada, namun dengan adanya gap itulah kita jadi dituntut untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan, termasuk perbedaan agama”, ujar Ibu Julieta.
Sekarang Ibu yang sudah berumur 68 tahun tersebut beraktivitas sebagai pensiunan, ibu rumah tangga, dan juga seorang legioner aktif. Di masyarakat, sebelum pandemi Ibu juga aktif di lingkungan tetangganya (RT/RW) dengan membantu pelaksanaan bakti sosial yang diadakan oleh pemerintah untuk keluarga pra sejahtera. Bakti sosial tersebut berupa pemeriksaan kesehatan para lansia (cek gula darah, asam urat, tensi darah, batuk-pilek) dan perkembangan balita. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Rabu di minggu ke-4. Dokter-dokter Puskesmas hadir dan biaya pemeriksaan ditanggung oleh pemerintah. Ibu juga aktif dalam kegiatan arisan di lingkungan tempat tinggalnya, berupa arisan dengan WKRI dan arisan dengan warga umum/ non-Katolik. Dengan pertemuan arisan yang rutin dilakukan setiap bulan ini, warga dapat saling bersilaturahmi dan hubungan baik terjalin. Karena dalam pertemuan tersebut akan diadakan kegiatan membuat kerajinan tangan dari bahan limbah rumah tangga (bungkus sachet kopi, dll), lomba masak, dan kegiatan lainnya.
Selain Ibu Julieta, di kuria ini juga ada legioner yang aktif dalam arisan RT yang beranggotakan 20 orang bapak-bapak. Dalam pertemuan arisan, mereka sering melakukan sharing mengenai iman Katolik. Bahkan susunan acara dalam rapat arisan tersebut disusun seperti halnya susunan rapat presidium. Sama seperti halnya kegiatan Ibu Julieta, perkumpulan arisan RT ini juga melakukan kerja bakti setiap beberapa bulan dan mengumpulkan botol plastik untuk dijual. Uang hasil penjualan tersebut digunakan untuk acara kebersamaan warga RT dan sekaligus menjadi kegiatan peduli lingkungan.
Maka teman-teman legioner, kita semua diajak untuk aktif. Bukan hanya di gereja tetapi juga di lingkungan tempat tinggal, seperti yang dilakukan oleh legioner di Kuria Mater Christi ini. Berinteraksi dan memiliki hubungan harmonis dengan warga non-Katolik merupakan salah satu bentuk tugas martiria. Mari mewartakan Injil melalui perbuatan dan perkataan kita, serta meneruskan cinta kasih Tuhan kepada semua orang di tengah keadaan dunia yang sering kali menjadikan agama sebagai tameng sebuah perpecahan.
Kemarin, kita memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam Surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita.
Hari ini tepat tanggal 2 November kita mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan November ini kita khususkan untuk berdoa memohon kerahiman Allah atas mereka.
Apa sih Api Penyucian itu?
Menurut Katekismus Gereja Katolik, Api Penyucian adalah “suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian”.
Kenapa kita mengenang arwah orang– orang yang sudah meninggal?
Bagi umat Kristiani, saat kematian sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Ada kebangkitan sesudah kematian. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan di dunia ini selesai, kediaman abadi di surga sudah tersedia bagi kita. Kematian merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus yang merupakan pokok pengharapan kita karena Dia akan mengantar kita pulang ke rumah Bapa.
Apa tujuan kita mengenang para arwah?
Atas dasar iman itu, maka kita memohon agar saudara-saudara yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, boleh menikmati kebahagiaan kekal bersama Allah Bapa, serta boleh bersamasama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukan.
Hari kenangan dan peringatan arwah ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, yaitu bahwa kelak kita pun akan meninggal dunia dan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita. Lalu bersama Maria akan memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Hidup atau mati, kita tetap milik Kristus.
Kenapa arwah orang beriman diperingati pada bulan November? Lalu kenapa dipilih tanggal 2 November?
Umat Kristiani telah berdoa bagi para saudara/ saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristen. Liturgi-liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, meskipun ajaran detail dan teologi yang menjelaskan praktek ini baru dikeluarkan kemudian oleh Gereja di abad berikutnya. Mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal telah tercatat dalam 2 Makabe 12 : 41- 42. Di dalam kitab Perjanjian Baru tercatat bahwa St. Paulus berdoa bagi kawannya Onesiforus (lih. 2 Tim 1 : 18) yang telah meninggal dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen perdana percaya bahwa doa- doa mereka dapat memberikan efek positif kepada jiwajiwa yang telah wafat tersebut. Kitab Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian.
Secara tidak langsung Yesus mengajarkan bahwa ada dosa-dosa yang dapat diampuni setelah kehidupan di dunia ini, (lih. Mat 12 : 32) dan ini mengisyaratkan adanya tempat/ keadaan yang bukan surga karena di Surga tidak ada dosa; dan bukan pula neraka karena di neraka sudah tidak ada lagi pengampunan dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3 : 15).
Pada abad awal, nama- nama jemaat yang wafat dituliskan di atas plakat. Di abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati jiwajiwa mereka yang meninggal pada hari perayaan Pentakosta. Pada tahun 998, perayaan hari arwah menjadi peringatan universal di bawah pengaruh rahib Odilo dari Cluny. Ia menetapkan perayaan tahunan di rumah- rumah ordo Benediktin pada tanggal 2 November, yang kemudian menyebar. Sekarang Gereja Katolik merayakan Peringatan Arwah Orang Beriman pada tanggal 2 November, seperti juga gereja Anglikan dan sebagian gereja Lutheran.
Dari keterangan tersebut, tidak disebutkan mengapa dipilih bulan November dan bukan bulan- bulan yang lain. Namun jika kita melihat kalender liturgi Gereja, maka kita mengetahui bahwa bulan November merupakan akhir tahun liturgi, sebelum Gereja memasuki tahun liturgi yang baru pada masa Adven (sebelum merayakan Natal/ kelahiran Kristus).
Maka sebelum mempersiapkan kedatangan Kristus, kita diajak untuk merenungkan terlebih dahulu akan kehidupan sementara di dunia dan tentang akhir hidup kita kelak, agar pada akhirnya kita dapat bergabung dalam bilangan para kudus di Surga. Kita juga diajak untuk merenungkan makna kematian dengan mendoakan para saudara-saudari kita yang telah mendahului kita.
Sumber : www.katolisitas.org , www.imankatolik.or.id
Setiap tanggal 1 November, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Perayaan ini bertujuan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat– jemaat perdana disebut dengan istilah “Persekutuan Para Kudus” yang berarti persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Secara khusus, kita juga memperingati sekumpulan besar orang yang berdiri di hadapan takhta Allah karena mereka telah memelihara imannya dengan baik sampai akhir hidupnya di dunia ini, sehingga memperoleh ganjaran besar di Surga, termasuk di antaranya adalah mereka yang telah dikanonisasikan atau diakui oleh Gereja sebagai Santo/ Santa, martir, dan orang kudus lainnya yang tidak/ belum dikenal.
Gereja Katolik mulai menghormati para Santo/ Santa dan martir sejak abad kedua melalui bukti catatan kemartiran St. Polycarpus di abad kedua yang berisikan seperti berikut : “Para Prajurit lalu,…. menempatkan jenazahnya [Polycarpus] di tengah api.
Selanjutnya, kami mengambil tulang-tulangnya, yang lebih berharga daripada permata yang paling indah dan lebih murni dari emas, dan menyimpannya di dalam tempat yang layak, sehingga setelah dikumpulkan, jika ada kesempatan, dengan suka cita dan kegembiraan, Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan hari peringatan kemartirannya, baik untuk mengenang mereka yang telah menyelesaikan tugas mereka, maupun untuk pelatihan dan persiapan bagi mereka yang mengikuti jejak mereka.” (St. Polycarpus, Ch. XVIII, The body of Polycarp is burned, 156 AD).
Melalui peringatan Hari Raya Orang Kudus, kita diajak untuk mengenang serta meneladani cara hidup para kudus yang berbahagia di surga, mereka dengan setia mengorbankan hidupnya untuk beriman secara utuh kepada Kristus. Para kudus yang berbahagia di surga itu bersama Santa Perawan Maria mendoakan kita agar tekun dalam perjuangan. Mengenang para orang kudus dapat kita mulai dengan langkah sederhana yaitu mengenali dan menghidupi kisah hidup dari Santo/ Santa pelindung kita. Mari kita tetap setia dan beriman di dalam Kristus.
Matius 5 : 1 – 12 Alukosio oleh PR RD Antonius Didit Soepartono – Rapat Senatus ke 396-H/ Tahun ke -33
Bacaan rohani mengenai Sabda Bahagia merupakan pelajaran cinta tertulis yang mudah disampaikan atau dibaca namun sulit untuk dilaksanakan. Satu dari sepuluh ungkapan sabda bahagia tersebut adalah “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anakanak Allah”. Membawa damai merupakan salah satu tugas kita bersama. Lalu apa yang dapat legioner lakukan untuk membawa damai terutama selama masa pandemi ini?
Yang pertama, pada 1 November, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus. Mari kita meneladani kesetiaan para Santo – Santa pelindung.
Lalu yang kedua, kita menjalin hubungan baik dengan masyarakat, apalagi saat ini sering sekali timbul konflik yang menggunakan agama dan ras sebagai tameng.
Berikutnya, seluruh perwira Legio Maria mulai dari Senatus hingga Presidium diharapkan dapat semakin kreatif untuk memperkenalkan Legio Maria kepada kaum muda maupun para lansia. Kondisi pandemi saat ini memaksa kita untuk lebih banyak beraktivitas secara online. Dengan demikian, yang jauh bisa menjadi dekat. Teknologi ini jika dimanfaatkan dengan baik, maka dapat memperkaya kuantitas dan kualitas Legio Maria.
Dengan kemajuan teknologi dan kegiatan online ini, perwira harus mengupayakan seluruh informasi dapat tersampaikan secara lengkap dan jelas kepada seluruh legioner, serta seharusnya kehadiran legioner dapat meningkat.
Kemudian, sebagai legioner kita harus tetap mengupayakan kehadiran rapat dengan sungguh-sungguh walaupun hanya online dan berdoa dengan tekun.
Serta kita bisa merencanakan habitus dan kegiatan positif untuk menyambut usia ke 100 tahun Legio Maria pada September 2021. Memang tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan selama masa pandemi ini. Namun apabila kita fokus dan sungguh-sungguh pada beberapa hal saja, maka hasilnya akan luar biasa.
Yang terpenting adalah kita mau dengan sepenuh hati mencintai dan melihat apa yang Tuhan kehendaki selama masa pandemi dan di tengah keterbatasan ini.
Mari budayakan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjaga kesehatan, dan segala hal yang dapat kita lakukan untuk berjuang di tengah situasi pandemi ini. Mari menjadikan hal-hal ini sebagai gaya hidup, sehingga bukan hanya menjaga diri sendiri tetapi juga menjaga orang lain di sekitar kita. Tuhan memberkati. Ave Maria.
Sabtu (24/10) malam yang lalu adalah salah satu malam minggu berfaedah bagi para legioner. Hari itu, Bapak Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap berkenan menjadi salah satu narasumber dalam sebuah acara talkshow online yang disiarkan langsung dari Medan, bersama dua orang pembicara awam Yustinus Sukisno sebagai legioner senior dan Yudith Kartini Sitohang sebagai legioner junior. Dimoderatori oleh Daniel Hutajulu, talkshow dengan tema “Fiat Voluntas Tua dalam Legio Maria” ini merupakan talkshow kedua dalam rangkaian kegiatan dari perayaan 100 tahun Legio Maria.
Fiat voluntas tua pasti sering didengar oleh mereka yang bergerak di dunia pelayanan. Bahkan kalimat ini menjadi tema perayaan 100 tahun Legio Maria di Indonesia. Terjemahan bebasnya kurang lebih berarti, “[aku ini hamba Tuhan,] terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Kalimat ini muncul dalam Injil Lukas, sebagai jawaban Maria atas tawaran keselamatan yang datang dari Allah melalui kabar sukacita yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel.
Namun untuk dapat mengerti semangat dari kalimat itu, maka kita harus membaca ulang kisah kabar sukacita ini dari awal dan meresapi bagaimana respon Maria saat itu. Maria tidak bertanya “mengapa aku?”, melainkan bertanya “bagaimana hal itu dapat terjadi?”. Pertanyaan ini sesungguhnya mendahului kesediaan Maria akan kabar yang didengar Maria dari Malaikat Gabriel. Dan dengan menyatakan diri sebagai hamba Tuhan, Maria menyampaikan bahwa dirinya siap untuk melayani dan berserah penuh pada kehendak Tuhan. Lalu kemudian Maria dengan rendah hati mengharapkan agar kebenaran itu dapat tergenapi, dengan kalimat penutup, “jadilah padaku menurut perkataanmu”.
Secara keseluruhan, Maria telah memberikan teladan kepada kita semua untuk selalu mencari kehendak Tuhan dalam doa-doa yang kita sampaikan pada Tuhan, dan bukan malah menyampaikan program-program kita pribadi untuk dikabulkan oleh Tuhan. Seorang hamba akan selalu siap sedia menerima perintah dan menjalankan tugas kendati beresiko membahayakan diri sendiri, karena mengetahui bahwa Allah sudah mengatur semua hal.
Menjadi seorang legioner tidak melulu soal berdoa panjang-panjang seperti Rosario. Namun ada karya yang harus dilakukan, seperti kunjungan. Pada saat kunjungan inilah, kita tidak lagi menampilkan apa program kita kepada orang lain, melainkan mencari kehendak Tuhan untuk kita lakukan. Bersamaan dengan itu, kita membentuk karakter kita melalui penolakan-penolakan yang kita alami. Tidak mudah untuk menjadi seorang pelaksana yang baik, namun itulah yang harus kita lakukan.
“Cara terbaik menularkan semangat adalah dengan teladan hidup. Dengan bertanya pada Tuhan apa yang Tuhan inginkan untuk saya lakukan, lalu melakukan jawabannya dalam keseharian kita. Orang pasti akan bertanya apa yang menjadi sumber inspirasi kita, dan kita bisa menjawab Bunda Maria lah yang menjadi sumber inspirasi kita. Bunda Maria adalah teladan kita dalam hal beriman.“
Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap
Sedikit bocoran, Bapak Uskup Medan juga pernah menjadi legioner. Bersama mas Yus dan Yudith, Bapak Uskup juga membagikan pengalamannya menjadi seorang legioner. So, pastikan dirimu menyimaknya melalui tautan link https://youtu.be/iaSVMXg4qxE, ya. Ave Maria.
Yep, pecah banget!! Sebanyak 324 legioner mendaftarkan diri sebagai peserta kuis online Legio Maria, yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan perayaan 100 tahun Legio Maria. Mereka berasal dari Sabang sampai Merauke, dengan rentang usia yang beragam. Nggak cuma itu. Kuis online ini juga diikuti oleh legioner Indonesia yang berada di wilayah dewan Senatus Singapore, loh. Bedegh… pecah rekor nggak tuh?
Kuis serupa pernah diadakan bulan lalu oleh Komisium Maria Immaculata – Jakarta Barat 2 dan telah dimuat di E-Bulletin edisi September 2020. Masih sama, kuis Legio Maria ini masih mengajukan pertanyaan seputar Legio Maria, iman Katolik, dan pengetahuan kewarganegaraan secara umum. Media yang digunakan juga masih sama, aplikasi chat whatsapp. Niat panitia pun masih untuk menjaga persaudaraan di masa pandemi ini. Dan niat baik ini lah yang diberkati oleh Bunda Maria hingga bisa terlaksana dengan baik. Nih ya, kalau bukan karena berkat Bunda Maria, para peserta tuh nggak akan merasakan euphoria keseruan ini dari tempat masing-masing, padahal jelas-jelas beda waktu, beda jarak, dan beda usia. Nggak percaya? Cek halaman berikut yak. Ada titipan salam dari mereka ~
Terbagi secara acak ke dalam 16 kelompok yang berbeda, 324 legioner itu mengikuti segala tahap yang ada. Mulai dari tetiba diundang ke whatsapp grup beberapa hari sebelum hari H, hingga sabar nungguin pengumuman siapa aja yang lolos ke babak selanjutnya di hari Minggu (18/10) lalu. Meski kelihatannya nggak ada yang bertujuan untuk berkompetisi, tapi mereka mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin loh, sampe pada niat untuk bongkar catetan lama hingga buku pelajaran segala. Dan kerennya adalah, salah satu legioner dewan Senatus Singapore bahkan mencapai babak final. Begh… itu bukti bahwa berada di negri orang nggak lantas melupakan negara asalnya.
Serunya Bikin Nagih..!!
“Terima kasih atas undangan kuisnya. Lomba ini sangat bagus dan bermanfaat, karena bisa bertemu dengan peserta kuis se-Indonesia, sehingga bisa bertukar pikiran mengenai dewan legio masing-masing. Cocok banget jika setiap dewan bisa melakukan lomba begini secara berkala.” Sdr. Petrus, legioner Balikpapan – Kalimantan Timur
“Saya diingatkan untuk senantiasa memperbaharui dan membekali diri akan pengetahuan tentang Legio Maria dan kewarganegaraan. Saya juga menikmati dinamika dan antusias dari peserta lain. Semoga kegiatan ini dapat berlanjut di dewan masing-masing, sehingga legioner dirangkul untuk terus memperbaharui diri di masa seperti ini.” Sdr. Herdi, legioner Medan
“Seneng, bangga gitu bisa berkenalan dengan legioner se Indonesia, bahkan hingga Singapore. Nggak nyangka banget bisa lolos ke babak dua, dan saya terharu karenanya.” Sdri. Caroline Kesya Putri Rahayu, legioner Batam
“Kuisnya bagus, ada manfaatnya. Mama saya sampe ikutan antusias untuk menjawab soal-soal yang ada. Semoga kuisnya bisa terus berlanjut dan nggak cuma kalau lagi ulang tahun legio aja.” Sdr. Antonius Cahyo Nugroho, legioner Batam
“Biasanya membaca berkas legio ya baca saja, tetapi karena ada kuis ini jadi rajiiinbanget buka-buka semua berkas yang sudah rapi tersusun di lemari. Semua bahan pelajaran bina iman pun kebaca juga. Kalau pun nggak menang, tapi saya jadi semangat membacanya.” Sdri. Irene, legioner Bekasi
“Kegiatan ini sangat luar biasa, seru, dan menegangkan karena waktu yang diberikan sangat singkat. Tapi bersyukur saya bisa ikut berpartisipasi dalam kuis online ini, walaupun apa yang sudah saya pelajari ada beberapa soal yang tidak keluar. Sungguh luar biasa.” Sdri. Prisca Renate Nadia Taek, legioner NTT
Tuh, euphoria-nya dapet banget kan? Sampe para pesertanya pada pengen diadakan lagi di dewan masing-masing. Kuy, mari kita menguduskan diri secara kreatif di masa pandemi ini.
Dalam tulisan sebelumnya, kita telah membaca sejarah, inspirasi dan tujuan didirikan Legio Maria sejak 7 September 1921 di Dublin, Irlandia, tempat awal terbentuknya Legio Maria di dunia. Pendiri Legio Maria, Frank Duff tak pernah berpikir bahwa pertemuan awal ini akan meluas ke seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Bagaimana perjalanan sejarah Legio Maria di Indonesia, khususnya di Senatus Bejana Rohani, yang meliputi wilayah Indonesia Bagian Barat? Jujur, kami belum dapat menuliskan jejak langkah secara lengkap karena keterbatasan sumber informasi. Akan tetapi kami berusaha merangkum beberapa hal penting dari catatan dan narasumber yang ada. Jika dari pembaca mempunyai info tambahan kiranya berkenan menyampaikan pada Perwira Senatus Bejana Rohani.
AWAL TERBENTUKNYA DEWAN SENATUS BEJANA ROHANI, JAKARTA
Legio Maria di Jakarta muncul pertama kali pada tahun 1972, didirikan oleh Pastor Vincenzo Salis SX di Gereja St. Maria de Fatima, Paroki Toasebio, Jakarta Barat. Presidium pertama tersebut memakai nama Paroki yaitu Presidium Maria de Fatima. Saat itu tergabung di Kuria Bogor.
Tahun 1977, Jose Tugelida, seorang envoy dari Filipina datang ke Jakarta dan melihat ladang subur yang memungkinkan perkembangan Legio Maria. Terbukti bahwa selama 1978-1979, Legio Maria tumbuh di Jakarta seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Dari 19 presidium yang tersebar di paroki Toasebio, Kemakmuran, Pluit, Mangga Besar, Matraman, Tanah Tinggi, dan Kramat, meningkat jumlahnya menjadi 33 presidium yang semuanya bergabung kepada Dewan Kuria Bogor.
Melihat jumlah presidium yang telah cukup banyak, Sdr. Jose mengusulkan dibentuk sebuah dewan kuria di Jakarta. Prakasa ini disambut dengan baik oleh Bapa Uskup Agung Jakarta, saat itu adalah Mgr. Leo Sukoto dan juga Kuria Bogor yang saat itu mensupervisi presidium-presidium Jakarta. Akhirnya dewan kuria yang telah disiapkan dengan baik itu diresmikan oleh Dewan Komisium Bandung pada tanggal 18 Februari 1979 dengan nama Bejana Rohani – Jakarta.
Istimewa sekali dalam rapat perdana KURIA BEJANA ROHANI, karena selain dihadiri oleh utusan dari Senatus Malang, Komisium Bandung, Kuria Bogor, juga dihadiri oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Sukoto, serta Jose Tugelida selaku envoy dan utusan resmi dari Dewan Konsilium Dublin.
Peranan utama Legio Maria adalah membantu Gereja secara nyata. Umat Katolik di KAJ saat itu sekitar 133.000 orang yang tersebar dalam 34 paroki, dan memerlukan partisipasi dari legioner untuk menjadi garam bagi Gereja.
Mgr. Leo Sukoto, Uskup Agung Jakarta – 1979
Karena pertumbuhan demikian pesat dalam kota Jakarta, dan untuk meningkatkan efisiensi pengawasan dan perluasan, maka atas persetujuan Mgr. Leo dibentuklah 2 kuria baru dalam kota Jakarta pada 19 Oktober 1980. Dengan demikian terdapat 3 dewan kuria, yaitu Kuria Bejana Rohani, Kuria Tahta Kebijaksanaan dan Kuria Ratu Para Rasul dengan total jumlah presidium di Jakarta sebanyak 31 presidium senior dan 14 presidium junior.
Dalam kurun 3 tahun , Legio Maria di Jakarta telah tumbuh menjadi 56 presidium yang tersebar di 18 dari 35 paroki yang ada saat itu. Dengan restu dari pimpinan Gereja dan pimpinan Legio Maria, pada 10 Juli 1983 Senatus Malang meningkatkan status Kuria menjadi KOMISIUM BEJANA ROHANI untuk mensupervisi dewan dan presidium di daerah Jakarta.
Keterampilan legioner dalam bertugas sungguh-sungguh diperhatikan dengan tidak melupakan kehidupan rohaninya. Diharapkan Legio Maria membantu di lingkunganlingkungan paroki dan menjadi penghubung antar umat lingkungan sehingga Legio Maria khususnya di KAJ dapat menjadi perpanjangan tangan Gereja. Homili Mgr. Leo, 17 September 1983
Berkat karya Roh Kudus melalui penyertaan Bunda Maria, rupanya semangat umat Katolik semakin membara untuk menggabungkan diri menjadi bala tentara Maria dalam karya Kerasulan Legio Maria. Hal ini ditanggapi secara serius oleh Pimpinan Legio mulai dari Konsilium Dublin dan Senatus Malang, serta Pimpinan Gereja, sehingga setelah melalui proses penelitian yang cukup panjang, akhirnya Minggu, 29 Maret 1987 status Komisium Bejana Rohani ditingkatkan menjadi SENATUS BEJANA ROHANI dan berpusat di Jakarta.
Sumber : dok. pribadiSurat pengesahan dari Dublin – | Sumber : dok. pribadi
Rapat perdana sebagai dewan senatus dilaksanakan di aula gereja Keluarga Kudus, Rawamangun. Saat itu Senatus Bejana Rohani terdiri dari 2 komisium, 11 kuria, 18 presidium senior dan 8 presidium junior, dengan wilayah meliputi seluruh Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan dan Jakarta. Wilayah tersebut terdiri dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Medan dan keuskupan-keuskupan lainnya : Bandung, Sibolga, Padang, Palembang, Tanjung Karang, Pangkal Pinang, Pontianak dan Bogor. Tentu saja keputusan dari Dewan Konsilium Dublin ini juga disetujui oleh Uskup wilayah tersebut dan Senatus Malang.
Dengan ditingkatkannya menjadi dewan senatus, yang merupakan senatus ke-2 di Indonesia, tentulah sebuah kebanggaan dan juga tanggung jawab besar untuk mengupayakan agar karya kerasulan Legio Maria menjadi bagian dari Gereja Indonesia dan dapat menjadi perpanjangan tangan Gereja untuk mewujudkan Kemuliaan Allah di dunia.
PERKEMBANGAN SENATUS BEJANA ROHANI DI ABAD KE-20
Dalam perjalanan Legio Maria di wilayah karya Senatus Bejana Rohani yaitu Indonesia bagian Barat, Senatus selalu mengupayakan agar selaras dengan perkembangan Gereja setempat baik itu arah dasar, semangat dan juga wilayah karya.
Salah satu upaya yang dilakukan pada tahun 2011-2012 adalah Senatus mencoba merapikan wilayah karya dewan legio (kuria dan komisium) agar selaras dengan wilayah karya keuskupan setempat. Tujuannya agar legio berkarya sesuai dengan bimbingan, fokus, dan kebutuhan Gereja setempat (Keuskupan/ Dekenat/ Paroki/ Stasi). Hal ini dimulai dari Keuskupan Agung Jakarta, dengan merapikan pengelompokan dewan kuria dan komisium sesuai dengan Dekenat. Walau cukup banyak hambatan dalam proses ini karena beberapa dewan/ presidium sudah saling terikat dan harus dipisahkan sesuai dengan dekenatnya, akan tetapi berkat ketaatan dan kerendahan hati legioner, serta didukung oleh para Pemimpin Rohani, akhirnya hal ini terlaksana dengan baik hingga saat ini.
Perluasan legio terus berjalan, walau harus diakui bahwa di wilayah Jakarta dan Jawa Barat pertumbuhan secara kuantitas tidak sebesar dan seagresif di tahun 90-an, akan tetapi Senatus juga harus memastikan kualitas/ semangat kerasulan legio ini terjaga dengan baik. Oleh karena itu dibutuhkan pendampingan yang efektif dari semua tingkatan mulai dari presidium hingga senatus.
Di pertengahan tahun 2011, Senatus mensupervisi 16 dewan dalam kota Jakarta, 9 dewan luar kota dan 6 presidium tergabung langsung, dengan total 16.000-an legioner. Untuk mengefektifkan supervisi maka pada tahun 2011- 2014, Senatus meningkatkan 4 dewan kuria menjadi komisium di wilayah Keuskupan Agung Jakarta, yaitu Komisium Maria Asumpta – Tangerang (September 2011), Komisium Our Lady of the Holy Family – Jakarta Timur (Januari 2012), Komisium Maria Pengantara Segala Rahmat – Bekasi (Januari 2013) dan Komisium Ratu Para Rasul – Jakarta Barat 1 (Oktober 2014).
Perkembangan Senatus Bejana Rohani di abad ke-20-an ini tidak berhenti di seputar Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, tetapi juga berkembang pesat di wilayah Kalimatan. Nantikan kisah perjuangan perluasan Legio Maria di wilayah Borneo ini di edisi mendatang.
Bersambung…
Catatan : Tingkatan kelompok Legio Maria dimulai dari terkecil yaitu presidium, kuria, komisium, regia, senatus dan konsilium.
Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan kehidupan manusia. Namun demikian, Legio Maria di mana pun berada, tetap berusaha untuk merasul. Berikut ini beberapa cerita dari para legioner di negara maju dan berkembang. Sumber : https://www.legionofmary.ie/
PERANCIS
Senatus Paris: rapat ditangguhkan sejak Maret – Juni. Sebagai salah satu persiapan 100 tahun Legio Maria, Senatus meminta setiap presidium menuliskan kisah mengenai orang-orang luar biasa/ berperan penting yang mereka temui di Legio Maria, rahmat yang mereka terima melalui perantaraan Frank Duff, dan peristiwa penting seperti pertobatan. Artikel tersebut akan dikumpulkan dalam bentuk booklet untuk menandai 100 tahun Legio Maria.
Kuria Orang Vietnam: Kuria ini terdiri dari 7 presidium dengan 73 anggota aktif, 5 percobaan, 178 auksiler, 18 pretorian, dan 60 ajutorian. Sebuah presidium dengan 3 anggota rohaniwan melakukan kunjungan orang sakit dan merawat orang disabilitas. Seorang Katolik yang kurang taat memutuskan anaknya untuk dibaptis setelah dia mendapatkan medali wasiat. Dia sangat berterimakasih atas waktu dan pendampingan legioner selama ini. Selain itu, sebuah presidium yang beranggotakan 12 orang lansia menjalankan karya legio dengan membantu membagikan komuni di gereja dan mendorong pasangan yang telah hidup bersama untuk menerima Sakramen Perkawinan.
BELGIA
Kuria Namur: terdiri dari 4 presidium dengan 12 anggota aktif dan 71 auksilier. Walau jumlah anggota sedikit, tetapi tiap presidium melakukan karya kerasulan yang baik.
DUBLIN UTARA
Kuria Betlehem: terdapat laporan tahunan dari 1 presidium yang terdiri dari 5 anggota aktif dan 3 auksilier. Mereka membagikan dan menjelaskan arti medali wasiat kepada banyak orang yang lewat di jalan, mendorong banyak orang murtad untuk kembali pada iman Katolik, mendengarkan para tunawisma yang menceritakan berbagai masalah mereka. Selain itu, terdapat seorang pemuda Muslim yang menjadi Katolik, dia menerima hadiah Medali Wasiat dan mendengarkan legioner bercerita tentang Gereja Katolik. Pertemuan setiap 3 bulan untuk mempromosikan Frank Duff sudah dilaksanakan. Legioner mendampingi seorang wanita muda Filipina yang sakit dan hidup sendiri tanpa keluarga, mulai ia sakit hingga menjelang kematiannya.
INGGRIS
Regia Brentwood, London: pertemuan Legio Maria belum dapat dimulai karena banyak gereja belum dibuka. Regia terus memantau situasi. Ketua Regia mengadakan kontak dengan Kuria dan Komisium, mengirimkan refleksi rohani mingguan kepada mereka untuk dibagikan kepada presidium untuk meneguhkan hati.
THAILAND
Pemimpin Rohani terus memotivasi legioner. Legioner mengadakan kontak dengan orang yang sering tidak hadir dalam misa, mendoakan ibadat arwah, dan mengajarkan katekese pada narapidana bersama para biarawati.
VIETNAM
Komisium dan Kuria melaporkan, bahwa setiap dewan Komisium/ Kuria menyimpan catatan jumlah laporan, kapan dewan dibentuk dan wilayah yang dikelola termasuk deskripsi tentang wilayah tempat kerjanya. Semua dewan melaksanakan karya kerasulan yang sangat baik membawa banyak orang kembali ke imannya.
Terdapat 1 komisium dengan 14 presidium senior dan 4 presidium junior. Kuria memiliki 1513 anggota senior dan 337 anggota junior, 482 pretorian, 4024 auksilier, dan 496 ajutorian. Dewan ini membantu membereskan perkawinan 144 pasangan dan 16 orang dibantu untuk menghindari aborsi. Pada awal Juli 2020, ada 20% yang masih mengadakan pertemuan tetapi pada akhir Juli tidak ada pertemuan yang diizinkan.
MEKSIKO
Terdapat 2 Senatus dan 5 Regia yang tergabung langsung dengan Konsilum di negara ini. Seluruh Meksiko saat ini sedang lockdown dan hampir semua dewan dapat mengadakan rapat virtual dengan sukses. Mereka mendaraskan doa Legio, bacaan rohani, dan alukosio, serta laporan singkat dari masing-masing dewan tergabung tentang pengalaman dalam menjalankan karya kerasulan. Sebagian besar dewan mengadakan Misa atau Misa Triduum untuk memperingati 99 tahun Legio Maria. Lalu melanjutkan rencana persiapan 100 tahun Legio Maria.
“Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2 : 22)
Terima kasih kepada bapak/ ibu/ saudara/i auksilier dan ajutorian yang senantiasa mendoakan Legio Maria. Berikut adalah buah dari doa teman-teman auksilier dan ajutorian, sekaligus karya dari teman-teman aktif dan pretorian.
Kuria Ratu Damai – Bandar Lampung.
Walaupun dalam masa pandemi, kuria ini tetap berupaya melakukan perluasan, yaitu dengan rutin memantau presidium-presidium yang baru berdiri melalui telepon untuk memastikan rapat mingguan tetap terlaksana. Selain itu, sebelum Senatus menggaungkan Laudato Si, dewan ini sudah aktif melakukan berbagai kegiatan Laudato Si dan menjadi motor penggerak di lingkungan. Legioner di dewan ini juga melakukan Gerakan 1000 masker dengan menjahit, mencuci, mengemas, dan membagi-bagikan masker. Seluruh bahan yang dibutuhkan untuk membuat masker disediakan oleh Keuskupan.
Kuria Cermin Kekudusan – Kampus.
Rapat dewan dan presidium secara online sudah berhasil dilaksanakan. Saat ini memang hanya terdapat 5 presidium yang tergabung di dalam kuria ini. Kuria ini juga sedang mengupayakan pemekaran presidium di Unika Atma Jaya, BSD. Selama masa pandemi, selain rapat dewan atau presidium online, dewan ini mengupayakan doa online bersama.